Jumat, 14 Desember 2012

RejanggirL





BAB 1
REJANG LEBONG

Nane, Dio dan Nif
      Di sebuah kampung yang begitu indah, nyaman, sejuk serta hijau dan bisa dipastikan jauh dari polusi udara apalagi pemanasan global. Kendaraan yang hilir mudik sepertinya tidak kenal dengan yang namanya macet. Kendaraan memang tidak bisa dibilang sepi, apalagi kendaraan roda dua, sepertinya sudah menjamur, ditambah lagi jalanannya yang mulus serta terawat dengan rapih.
      Sebuah gunung besar terlihat berdiri kokoh di belakang perkampungan, seperti layaknya tembok hijau raksasa yang memagari bagian belakang kampung hingga terlihat seperti pemandangan indah yang menakjubkan, dan didampingi dengan bukit kembar, namanya Tebo/gunung Pabes dan Tebo Tepuk. Nama yang unik namun indah, seindah gunungnya. Dulu gunung itu sangat hijau tapi sekarang mulai memudar, karena pohon-pohon besarnya sudah berkurang.
      Kampung Nane terletak di perlintasan Curup-Muara Aman, empat kilo dari Muara Aman dan sekitar 71 kilo dari kota Curup, sudah menjadi kelurahan yang terdiri dari tiga kecamatan. Juga sudah jadi sebuah Kabupaten, terdiri dari beberapa kelurahan.
      Penghasilan para penduduk berasal dari hasil pertanian dan perkebunan. Ada beberapa orang yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil.
      Di kabupaten Lebong sudah banyak sekali sekolah SMA Negeri, salah satunya yang tertua yaitu sekolah tempat Nane di Muara Aman. Yang berada di lingkungan pasar Muara Aman.


                                                                             ***
      Siang itu, Nane sedang duduk di teras rumahnya yang sederhana bahkan sangat sederhana. Rumah itu tepat di pinggir jalan yang tidak begitu jauh dari persimpangan jalan. Ia menanti kedatangan Dio sejak lima belas menit yang lalu. Kata orang pekerjaan menunggu itu adalah paling membosankan, tapi tidak berlaku buat Nane. Dio sudah meneleponnya dan mengatakan akan muncul sepuluh menit lagi, meski sudah lewat, ia tidak akan menelepon balik untuk memastikannnya. Nane asyik menikmati lagu di ponselnya yang murahan dan tidak dilengkapi dengan memory external yang hanya bisa menyimpan dua atau tiga lagu saja.
      Sebuah lagu Astrid dengan judul ‘Tentang Rasa’ lalu menyusul lagu Ungu yang bertajuk ‘Percaya padaku’ Nane sangat menikmati lagu-lagu dari negeri sendiri khususnya ‘Kotak’, meski hampir semua remaja Indonesia sedang menggilai anak-anak boyband atau girlband juga demam bola TIMNAS, namun bagi Nane, yang berada jauh dari Glora Bung  Karno hanya cukup mendoakan saja semoga Indonesia berjaya di mata dunia dan bisa menjadi kebanggaan semua rakyatnya. Meski kenyataannya TIMNAS kalah juga melawan Malaysia.
      Kapan ya, TIMNAS tidak lagi kalah…? Apakah karena pengaruh keegoisan orang-orang yang di atas yang tidak mau bersatu…>>???
                                                                                  *
      Beberapa menit berikutnya sebuah mini bus berhenti di depan rumah Nane, tepatnya satu rumah di sebelah rumah yang posisinya pas di depan rumahnya. Rumah itu kosong karena baru ditinggal penghuninya kira-kira sebulan yang lalu. Dengan berhentinya mini bus itu tidak membuat Nane sedikit pun beranjak dari tempat duduknya, ia masih bersandar di kursi kayu yang di terasnya dengan headset masih menempel di telinganya. Satu dua orang lewat, dan mobil angkutan umum yang memang terlihat lewat sekitar lima menit sekali.
      Seorang wanita empat puluhan terlihat keluar dari mini bus, diikuti seorang gadis sepantaran Nane kemudian menyusul dua buah koper yang lumayan besar dikeluarkan oleh sang kondektur. Dua wanita itu seperti Ibu dan anak. Berikutnya mini bus itu berlalu dan meninggalkan dua wanita yang sangat asing di mata Nane. Kedua wanita itu sedang terlibat perbincangan serius lalu mengangkat koper mereka ke atas rumah kosong itu. bisa Nane pastikan kalau kedua wanita itu tidak sedang menunggu mobil, sebab tidak mungkin orang menunggu mobil tapi meletakkan kopernya di teras rumah orang, meski pun kosong.
      Rumah Nane ada di sebelah timur, dan pasar Muara Aman terletak di barat yang kira-kira berjarak 4 kilo meter dari rumah Nane. Satu lagi, ada dusun yang paling ujung namanya Semelako juga berjarak 4 kilo meter dari rumah Nane, posisinya ada di utara rumah Nane.
      Nane masih mengamati kedua wanita itu, si Ibu terlihat melirik ke kiri dan ke kanan dan si gadis yang berambut panjang itu tanpa sengaja beratatapan dengan Nane, tanpa sadar Nane menciptakan sebuah senyuman dan itu spontan. Dibalas gadis itu dengan disertai anggukan kecil, tampangnya ‘Laura Basuki’ sekali. Si Ibu lalu meninggalkan anaknya bersama kedua koper mereka. Gadis itu melirik dua buah kursi yang ada di teras itu lalu menarik satunya untuk ia duduk. Ia melirik ke Nane lagi saat Nane sedang menatap jam tangannya.
      Dua puluh menit sudah berlalu dan belum pernah Dio terlambat separah itu, ‘Ke mana tu anak?’ pikir Nane. Tanpa diliputi rasa kesal, Nane beranjak dari kursinya dan masuk ke dalam rumahnya, beberapa saat kemudian ia keluar lagi dan gadis yang di depan itu masih duduk menemani kopernya sambil memainkan ponsel di tangannya. Dia terlihat lelah tapi tidak ingin menampakannya.
      Nane memutuskan untuk menyapa gadis itu dengan menghampirinya. Ia menyeberang jalan. Melihat gelagat Nane, gadis itu berdiri seakan menghargai niat baik Nane.
      “Hai…?” katanya menyapa duluan. Gadis itu terlihat feminin sekali.
      “Hai….” Balas Nane. ”Mm…..?”
      “Saya… Anifatul Hasannah.” Ia menatap gadis yang mirip Lucy Lawless waktu masih muda itu.

      O ooo… sepertinya dia bukan orang satu kampung dengan Nane dan itu jelas sekali, karena tidak ada gadis seusianya tidak dikenal oleh Nane di kampungnya. Nane harus menggunakan bahasa nasional dengan gadis itu. ”O, saya Nane, Nane Doyosi.” Mereka saling mengulurkan tangan dan berjabat erat. ”Aku belum pernah melihat kamu sebelumnya dan wanita yang tadi……?”
      “Wanita yang tadi itu Ibu saya, dia sedang ke Puskesmas untuk bertemu dengan kepala Puskesmas. Kami akan menempati rumah ini.”
      “Ibu kamu perawat ya?” kata Nane sekaligus menebak dengan pasti.
      “Kok tahu?”
      “Nebak saja, ini rumahkan pernah ditempati oleh seorang perawat.” Jelas Nane. Anifatul tersenyum dan mempersilahkan Nane duduk di kursi yang satunya. Nane menurut, ia duduk dan menatap Anifatul. Gadis itu juga melakukan hal yang sama. ”Kamu masih sekolah?”
      “Ya, kelas tiga. Aku harap juga kamu masih sekolah seperti aku, agar kita bisa satu sekolah.”
      “Maksud kamu, kamu pindah sekolah?”
      “Aku hanya memiliki Ibu, dia pindah tugas dan otomatis aku harus menemaninya.”
      “O.” Nane manggut-manggut kecil.
      “Pindahan dari Jakarta, lumayan jauh. Satu jam perjalanan udara dan hampir tiga jam perjalanan darat.” Tutur Anifatul seakan ingin menceritakan perjalanan panjangnya nyaris seharian ini. Dan Nane sangat paham sekali, untung sekarang jalanan sudah sangat bagus. Biasanya perjalanan dari Bandara Fatmawati Soekarno menuju kampungnya membutuhkan waktu empat jam. Dan Nane tidak tahu berapa jam perjalanan dari rumah Anifatul menuju Bandara SOETTA.

      Sebuah motor besar berhenti di depan rumah Nane. Nane melirik arlojinya, ‘Dua puluh lima menit’ gumannya. Anifatul melirik Nane. Lalu menoleh pada sosok yang sedang membuka helm itu. ternyata seorang pria jangkung, menawan dan mirip Vino G. Bastian. Kulitnya coklat dan rambutnya lurus, hidung mancung dan berbodi atletis.
      “Kamu kayaknya kedatangan tamu, tuh.” Ujar Anifatul. Mereka melihat pria itu turun dari motornya. Sebelum ia naik ke rumah Nane, Nane memanggilnya dengan tepukan tangannya. Pria itu menoleh. Wajah plamboyannya langsung tertangkap oleh Anifatul, sesaat pria itu dan Anifatul saling tatap. Nane melambaikan tangannya agar pria itu datang ke tempat mereka.
      Dengan langkah mantap ia menuju ke tempat Nane dan wanita asing itu sedang duduk. Anifatul mengamati pria itu dari sepatu hingga ujung rambutnya. Mendekati sempurna. Pria itu tersenyum dengan raut wajah penuh penyesalan kepada Nane.
      “Maaf Nan, uku telaaat nyen…” (Sori ya Nan… aku sangat terlambat.) Katanya dalam bahasa Rejang asli. Anifatul tidak mengerti sama sekali apa yang mereka bicarakan.
      “Duai puluak tujuak menit pat puluak tujuak detik.” (Dua puluh tujuh menit empat puluh tujuh detik) Kata Nane setelah melirik jam tangannya. ”Sudo ba…” (Sudahlah…) ia pun membalas dengan bahas Ibu pertiwinya lalu menatap pria itu, dan pria itu sudah melirik Anifatul yang mengangguk ramah. ”Kamu pasti punya alasan yang sangat kuat, kan? Kita pakai bahasa Indonesia, sebab yang ada di depan kamu sekarang ini adalah Anifatul Hasannah, pindahan dari Jakarta. Dan kita akan pergi setelah ibunya kembali.” Lanjut Nane. Ia tidak ingin gadis itu tersinggung dengan bahasa mereka. Nane menoleh pada Anifatul. Anifatul melirik Nane kemudian pada pria itu. ”Anif… ini Dio, kenalkan…” lanjut Nane.
      Pria yang bernama Dio itu mengulurkan tangannya disambut erat oleh Anifatul sambil berdiri.
      “Anifatul Hasannah, boleh dipanggil dengan Nif.”
      “O, baru pindah ya?” kata Dio tak kalah ramah.
      “Ya, begitulah…” ujarnya mencoba bersikap wajar. Di hati kecilnya mengatakan kalau pria yang ada dihadapannya itu benar-benar menawan, beralis tebal dan berwajah oval.
      “Ibunya sedang menemui kepala Puskesmas untuk mengambil kunci rumah.” Jelas Nane
kemudian.
      “Jika kalian ingin pergi, tidak usah menunggu ibuku. aku tidak apa-apa kok sendiri di sini.” Ia tidak enak hati pada dua pasangan sejoli itu. apalagi ia tahu kalau Nane sudah lama menunggu pacarnya itu.
      “Nggak apa-apa kok, kita tungguin.” Kilah Dio sambil duduk di kayu teras. ”Di Jakarta dimananya?” Dio mulai bertanya.
      “Jakarta Selatan.” Jawab Nif dengan tenang.
      “O,…” nada suara Dio mengandung arti lain. Bisa ia bayangkan jika remaja kota akan tinggal di kampung seperti Anifatul itu. dia tersenyum.
      “Kamu kenapa senyum-senyum seperti itu?”  Nane merasa aneh dengan senyum Dio itu, dan ia hafal betul dengan bahasa tubuh Dio. Bagaimana ia mengagumi sesuatu dan menyepelekannya. Dan Nif juga merasakan kalau Dio sedang menertawakannya.
      “Ya, sedang ngebayangin kehidupan remaja-remaja Metropolitan aja…” ujar Dio santai.
      “Begitu ya?” Nif merasa sedikit tersinggung. Ia tidak menyangka kalau pria kampung seperti Dio bisa menertawakannya, jarang orang melakukan itu. kebanyakan pria mengaguminya dan bahkan berlomba-lomba untuk mendapatkan kasih sayangnya. Bagaimana pun juga Nif adalah sosok seorang gadis yang banyak diidamkan pria. Dia memiliki semua yang pria harapkan, kulit putih, langsing, rambut panjang, hidung mancung juga ramah. Tapi dia tidak tahu kalau Dio mendambakan seorang wanita yang berotak cemerlang, baik dan pemberani, satu lagi… yaitu tulus.
      “Jangan salah paham gitu dong Nif…, yang ada di otakku adalah gadis-gadis manja yang sering berkeliaran di mall-mall untuk menghabiskan uang orangtuanya. Syukur-syukur orangtuanya tidak memakai uang rakyat…” kata Dio dengan enteng.
      “Kebanyakan nonton televisi sih…” celetuk Nane, agar Nif tidak terlalu tersinggung.
      “Hei..! mana ada laki-laki seperti aku, betah duduk di depan TV?” ia menatap Nane sejenak.
      “Itu ibuku sudah kembali.” Tukas Nif setelah melihat ibunya berjalan ke arah mereka. Mereka menunggu wanita itu naik ke teras. Lalu beramah-tamah sejenak, kenalan dan Dio membantu Nif dan ibunya membawa koper ke dalam. Rumah itu ternyata sudah dibersihkan oleh petugas Puskesmas dua hari sebelum Nif dan ibunya datang.
      Sebelum pergi, Dio berpesan kepada kedua wanita itu, tidak boleh sungkan-sungkan minta bantuan jika mengalami kesulitan apa pun. Nif merasa sangat senang mendengar kata-kata Dio itu, sebagai gadis yang baru menjejaki kakinya di daerah asing, dia sangat membutuhkan kata-kata seperti itu, apalagi Dio mengatakannya langsung. Bagi Nif rasanya pasti berbeda.
                                                                      ***

      Di atas motor, Dio bertanya kepada Nane. ”Kamu tidak mau tahu kenapa aku terlambat?”   
      (Bahasa Indonesia saja)
      “Memangnya mau kasih tahu? Kalau merasa perlu kenapa tunggu aku bertanya?” sahut Nane.
      “Ya ya… aku libur kuliah selama dua bulan…”
      “Oh, ya…?” kata Nane tidak terlalu kaget.
      “Kok, cuma oh ya…? Ini kabar baik, kita bisa menginap di kebun dan menunggu durian runtuh seperti tahun-tahun sebelumnya…” sahut Dio rada kesal karena Nane tidak menyambut gembira ceritanya.
      “Terus… apa hubungannya dengan datang terlambat?” kata Nane tanpa bermaksud untuk protes. Ia hanya ingin tahu kenapa Dio bisa ngaret separah itu.
      “Sebelum datang ke rumah kamu, aku menunggu kedatangan pak Ramli untuk membawakan barang-barang yang kita perlukan di pondok nanti.” Motor Dio berbelok ke arah pasar untuk mengantar Nane membeli buku. Beberapa saat saja, motor besar itu sudah berhenti di depan toko buku. Keduanya masuk ke dalam toko. Nane mengambil apa yang ia butuhkan. Buku IPA, Dio menggodanya.
      “Buat apa sih beli buku gituan? Nilai bagus juga percuma kan kalau tidak mau meneruskan kuliah?” cerocosnya dengan cerewet.
      Nane menatap Dio sejenak. ”Kamu tahu kan? Dan aku tidak perlu mengulanginya setiap hari? Dan tidak ada yang percuma di dalam hidup ini. Lagian aneh saja seandainya nanti adikku bertanya pada orang lain mengenai pelajaran yang tidak bisa ia jawab di PR-nya.” Jawab Nane tidak mau kalah.
      “Ya ya.. tapi kan aku masih punya banyak buku dan aku rasa kurikulum dua tahun yang lalu tidak akan jauh berbeda dengan yang sekarang… dan kita bisa memesan buku lewat internet yang lebih komplit dan bermutu hmm…?” sahut Dio sambil bermaksud membayar buku Nane dan langsung ditepis oleh Nane. Dio mengalah asalkan Nane mau diajak makan.
      Nane menurut dan ia hanya memilih memesan es campur.
      Di warung sederhana Dio yang juga ikut pesan es, terlihat sangat menikmati es campurnya, buah yang segar di campur dengan susu. Lalu menatap Nane, gadis itu memang memilih tidak akan melanjutkan sekolah dengan alasan orangtuanya tidak mampu membiayai kuliahnya dan ia memilih adiknya yang akan sekolah tinggi. Dio  memang tidak bisa memaksa kehendak Nane itu… meski ia sangat menyayangkannya. Karena baginya pribadi, pendidikan di zaman sekarang tidak pandang pria atau wanita, semuanya berhak menimba ilmu.
      “Nan…, besok setelah kamu pulang dari sekolah kita langsung ke kebun ya? Aku sudah tidak sabar mendengar suara buah durian jatuh dari pohonnya yang menimbulkan suara ‘bug’ di tanah.”
      “Mana bisa seperti itu, setelah pulang aku kan harus membereskan rumah dulu.. lalu masak untuk makan sore bagi keluargaku. Kalau tidak masak, nanti pulang dari sawah orangtuaku makan apa? Dan adikku pasti akan berteriak kelaparan…” ia menatap Dio sekilas.
      “Alasan kamu selalu saja seperti itu. eh… ngomong-ngomong si Nif itu cakep juga ya? Dan namanya unik.” Kata Dio tiba-tiba.
      Nane tersenyum mendengar pujian tulus dari Dio untuk Nif. Memang tidak bisa dipungkiri,
Nif memang berbeda. Tidak sedikit gadis cantik di kampung mereka tapi Nif adalah produk luar kota yang sedikit banyaknya akan membawa keistimewaan sendiri. Dan Nane sendiri tidak bisa disamakan dengan Nif. Nane gadis manis yang sering membiarkan kulitnya bersahabat dengan matahari. Nane memiliki gigi yang bagus, tubuh langsing yang agak sedikit berotot, tinggi semampai rada pendiam dan mempunyai senyum yang sangat menawan.
      “Kamu suka ya, sama dia…?” hela Nane kemudian dengan nada agak pelan.
      “Sepertinya dia adalah perempuan yang aku impikan selama ini.” Ia tersenyum serius pada gadis itu. ”Kira-kira dia mau tidak ya, kalau aku tembak untuk menjadi pacarku? Semoga saja dia tidak punya pacar di Jakarta atau setidaknya sudah putus.” Harapnya agak berlebihan.
      Lagi-lagi Nane tersenyum. Tidak ada gadis yang menolak Dio untuk menjadi pacarnya. Dio itu memiliki postur tubuh yang tidak kalah kerennya dengan pria-pria kota, bahkan seorang model sekali pun. Dio malahan terlihat lebih macho, kuat dan hanyak kelebihan positif yang ia miliki.
      ‘Hei Nane…. kamu ini kenapa? Kenapa baru sekarang kelebihan-kelebihan pada diri Dio menyeruak di kepala kamu?’ Nane berguman sendiri. ’Sial!!’ ia memaki dirinya.
      “Apa si Nif itu tipe cewek terakhir kamu…??” tambahnya lagi.
      “Maksud kamu?” Dio mengeryitkan keningnya seakan melupakan sesuatu.
      “Aku sudah mendengar puluhan cewek yang kamu sukai dan selalu berakhir dengan kata-kata ‘Dia ternyata bukan tipeku..’ apakah itu juga akan terjadi dengan Nif?”
      “Jangan ngomong gitu dong Nan, setidaknya aku kan sudah bicara jujur sama kamu…, kamu sendiri tidak pernah bicara tentang perasaan kamu dengan aku. Aku tidak pernah tahu siapa pria yang kamu sukai, apakah cowok itu ada di sekolah kamu? Atau jangan-jangan kamu jatuh cinta dengan salah satu guru di sekolahmu…!? Kamu pikir aku tidak tahu kalau ada guru keren di sana? Aku juga pernah sekolah di tempat kamu, ingat itu.” Kata Dio seolah memarahi gadis itu.
      “Andai itu terjadi,…” Nane tertawa dan kali ini Dio tidak bisa mengartikan arti dari tawa itu. ”..dan aku tidak akan memberitahukannya ke kamu.” Tambah Nane dengan pasti membuat Dio rada keki juga karena dia tidak ingin ada yang Nane sembunyikan darinya, sebagaimana kejujurannya pada gadis itu selama ini.
      “Jadi itu arti persahabatan kita selama ini?” Dio mulai terlihat serius. ”Sampai detik ini aku tidak pernah tahu tentang perasaan kamu yang sebenarnya. Siapa yang kamu sukai dan siapa yang kamu benci? Dan pada siapa kamu pernah jatuh cinta? Usia kamu itu sudah tujuh belas tahun, mustahil kamu tidak pernah merasa menyukai pria di kampung ini. Apa iya kamu belum pernah jatuh cinta?” cerocos Dio.
      Nane menghirup es campurnya lalu menatap Dio. ”Apa iya seorang gadis yang menginjak usia tujuh belas tahun, bahwa hal terpenting dalam hidupnya adalah cinta!?? Apa ada peraturan seperti itu? aku rasa tidak!” Nane membela diri.
      Dio tertawa. ”Nane—Nane… andai saja kamu pacarku sudah aku cium kamu.” Kata Dio tidak main-main. Nane ikut tersenyum mendengar kata-kata konyol Dio.
      Tiba-tiba mata Nane tertuju pada tumpukan kayu besar yang masih basah, yang disusun rapih di seberang jalan. Sepertinya siap akan dijual.
      “Di…, liat deh di seberang jalan itu!” ujar Nane. Mata Dio menoleh ke sana. Di sana terlihat batang-batang pohon yang dipotong kira-kira berukuran satu meter dengan masih berbentuk bulat sebesar paha orang dewasa. Disusun sekitar satu kubik. ”Kebayang tidak sih, jika setiap hari ada sebanyak itu pohon ditebang, gimana jadinya kampung kita ini? Lama-lama gunung kesayangan kita akan botak.” Hela Nane.
      “Kamu benar Nan… tapi apa yang harus kita lakukan?” Dio merespon dengan cepat.
      “Kita lihat saja nanti. Kita pulang yok.” Ajak Nane. Dio pun mengiyakan.
                                                                     ooooooo
     
      Pagi-pagi sekali, Nif sudah tiba di SMA  Negeri 1 Muara Aman. Dia pikir seperti di Jakarta akan kena macet, dan tidak menyesuaikan selisih waktu yang ada di Jakarta dan Bengkulu, apalagi di Rejang Lebong tempat Nane, selisih waktunya lebih lambat hampir setengah jam dari Jakarta.
      Untung saja sudah ada orang yang datang, ia datang ke ruang guru untuk melapor kepindahannya. Tapi yang ada hanya tukang sapu ruangan. Akhirnya ia memutuskan untuk mencari kantin, meski pun ia sudah sarapan namun ia ingin melihat suasan kantin di sekolah itu. Ibu kantin mengamatinya sejenak.
      “Ibu baru lihat kamu, apa kamu anak pindahan…?” katanya dengan bahasa daerah Rejang. Biasanya ia menggunakan Bahasa Bengkulu yang hampir mirip dengan Bahasa Padang. Di Muara Aman bahasanya sudah campur aduk, karena sudah banyak para pendatang. Dari Padang, Cina bahkan dari pulau Jawa.
      “Maaf Bu…?” tanya Nif tidak mengerti. Ia mengamati wanita bersih dan putih itu, penampilannya tidak kalah dengan Ibu kantin yang ada di sekolah Internasional, pantas saja kantinnya terlihat bersih dan rapih.
      Yakin sudah dia, kalau gadis semampai itu anak baru, bukan anak kelas satu yang baru masuk, apalagi ini sudah pertengahan semester. ”O… pantesan datangnya pagi sekali.” Ia mulai menggunakan bahasa Nasional. ”Pindahan dari mana? Mm… silahkan duduk.” Katanya ramah.
      “Terima kasih, Bu.” Nif masih mengamati wanita yang kira-kira tidak jauh lebih tua dari ibunya. Ia duduk di bangku panjang dan Ibu kantin langsung menyuguhkannya segelas teh manis yang hangat.
      “Gratis untuk hari pertama kamu.” Ujarnya kembali ramah.
      “Tidak usah Bu, saya sudah sarapan kok.” Nif merasa tidak enak.
      “Tidak apa-apa, minum saja.” katanya tulus membuat Nif tidak tega untuk menolak. Si Ibu sudah kembali merapikan dagangannya. Penampilan wanita itu memang sederhana namun keramahannya terlihat tidak dibuat-buat.
      “Terima kasih ya, Bu.” Kata Nif kemudian. Ia menyimak apa saja yang tersedia di kantin itu. ada bakso, nasi goreng, beberapa gorengan dan berbagai minuman ringan. Ruang kantin yang tidak jauh dari ruang guru itu sangat luas. ”Ibu sendirian…?” tanya Nif mencoba berbincang.
      “Tidak, sebentar lagi ada yang datang membantu Ibu, kalau sendiri bisa kualahan, apalagi kalau anak-anak sudah jamnya keluar istirahat.
      “Mm…” Nif paham sekali. ”Ini SMA negeri 1, apa Ibu kenal dengan perempuan yang namanya Nane?” ia berharap sekali kalau Nane sekolah di tempat barunya itu.
      “Nane, si jangkung itu? waktu kelas dua, dia ketua OSIS di sekolah ini, anaknya jarang ngomong tapi baik dan pintar. Dan satu lagi…” wanita itu berhenti sebentar merapikan perabotan kantinnya untuk menatap Nif. ”Anak sulung Ibu, tergila-gila sama dia.” Ibu kantin tertawa seakan menertawai anaknya sendiri, tapi tidak terlihat sedikit pun ia membenci Nane, yang ada hanya rasa kagumnya pada gadis itu. ”Meski pun sudah kuliah dan tinggal di tempat kost, anak Ibu masih sering menanyakan Nane. Tapi dengar-dengar, guru olah raga di sekolah ini mau menjadi pacaranya Nane, entah itu benar atau tidak Ibu juga tidak tahu pasti. Tapi kata anak-anak, Nanenya tidak mau.” Katanya sedikit senang. ”Mm.. ngomong-ngomong nama kamu siapa dan pindahan dari mana?”
      “Nama saya Anifatul Hasannah dan pindahan dari Jakarta…” ia ragu-ragu mengatakan kata Jakarta itu. malu kalau-kalau wanita itu akan menertawainya. Tapi wanita itu tidak menertawainya sama sekali, ia bahkan tidak peduli seperti apa Jakarta itu, yang ia tahu apa pun keputusan para petinggi Jakarta sering menyusahkan kehidupannya di kampung. Nif merasa bersyukur dan ia berpikir, tentu saja Nane menolak pria mana pun karena Dio adalah pria yang paling keren yang pernah ia lihat. Nif membatin. Hingga detik ini ia masih ingat dengan sangat jelas bentuk garis-garis wajah Dio. Dio pemuda lain dari pada yang lain. Kulitnya memang terlihat coklat, tapi dari penampilannya ia sama sekali tidak terlihat dari kalangan orang susah. Ia punya wibawa, berkelas dan tidak gampang mengagumi sesuatu. Entah kenapa Nif merasa tertantang. ”Bu… sepertinya sudah ada guru yang datang, saya harus pergi untuk bertemu dengan salah satu guru, terima kasih atas suguhan teh hangatnya.” Kata Nif tak kalah tulus.
      “O, ya. Sama-sama.”

      Sepuluh menit berikutnya. Nif masuk ke dalam kelas, bersama seorang guru yang akan memberi pelajaran di kelas itu. Nane yang duduk di bangku tengah mengangkat kepalanya.
      ‘Ternyata dia anak IPA juga.’ Gumannya dalam hati.
      “Selamat pagi, Paaaak….” sapa anak-anak pada guru mereka.
      “Pagi……” balas guru perlente itu. Dia asli dari Jawa Timur mengajar bidang study fisika.
      Acara perkenalan singkat pun berlangsung, tidak ada yang istimewa. Hanya ada satu dua murid cowok yang terlihat norak, biasalah seperti cowok-cowok mana pun yang ada di muka bumi ini kalau melihat cewek langsung merespon. Nif disuruh duduk di bangku kosong.. sekilas ia dan Nane saling pandang. Nif tersenyum dan berusaha dibalas oleh Nane sewajarnya.

      Pelajaran pertama dilewati Nif dengan agak berat, dalam arti masih kaku. Tidak ada suara-suara berisik yang terdengar, siswa terlihat tekun dan sepertinya sangat memanfaatkan waktu semaksimal mungkin. Nif jarang belajar dalam kondisi hening dan serius seperti itu, tapi ada juga hal yang bisa diselingi dengan candaan, dan guru masih terlihat ingin menjalin kedekatan dengan murid-muridnya.
      Adegan tanya jawab pelajaran pun berlangsung sangat teratur, Nane terlihat agak mendominasi pelajaran. Dan Nif sepertinya mulai menemukan kenyamanan di dalam kelas itu. apalagi jendela bagian atas terbuka semua dan angin alam masuk dengan sangat bebas.
      Pada saat jam istirahat tiba, sama saja dengan sekolah pada umumnya. Ada yang berusaha kenal lebih dekat dengan Nif, ada yang ke kantin dan tidak sedikit juga yang ke perpustakaan. Tidak ada yang bersikap berlebihan.
      Nane menghampiri Nif. “Selamat bergabung di sekolah ini… sudah selesai acara kenalannya?  Ikut ke kantin nggak?” ajak Nane dengan nada biasa, layaknya pada teman biasa pula.
      “Ya, tentu saja..” Nif tersenyum senang. ”Mm… Nan… bangku di sebelah kamu kan kosong, boleh nggak kalau nanti aku duduk di sana?” kata Nif. Ia tahu ada tiga bangku kosong di kelas mereka sementara yang terisi sekitar tiga puluhan.
      “Akan aku pertimbangkan…” ujar Nane dengan tersenyum sembari melirik sekilas ke arah Nif. ”Bercanda…. tentu saja boleh. Bangku itu milik semua murid yang ada di sekolah ini, dan siapa pun boleh menempatinya.” Mereka tersenyum lalu menuju kantin. Tempat yang sebenarnya tidak begitu disukai oleh Nane. Kalau tidak begitu lapar ia lebih senang menghabiskan waktunya di perpustakaan. ”Istirahat hanya lima belas menit, pukul satu lima belas sekolah bubar. Waktu berangkat sekolah aku tidak melihat kamu, memangnya tadi berangkat jam berapa?”
     “Jam enam..” jawab Nif dengan cepat.
      “Jam enam waktu Jakarta atau waktu kabupaten Rejang Lebong?” tanya Nane datar.
      “Beda, ya?” tanya Nif dengan polos, senyum tipisnya mengembang seakan baru sadar.
      “Ya, banget…” kata Nane. Mereka sudah ada di kantin. Nif melirik arlojinya, jarum kecil itu menunjukan pukul sebelas. Lalu ia memutarnya agar sesuai dengan waktu setempat.
      “Waktu istirahat tepat pukul setengah sebelas..” kata Nane agar Nif memutar sesuai dengan waktu yang ada di sekolah mereka.
      Nif memesan bakso, diikuti Nane. Nif ingin sekali mencoba bakso, sebab makanan yang nyaris ada di seluruh pelosok Nusantara itu, rasanya rata-rata sama. Enak.

      Tapi tolong, jangan membuat bakso dengan daging ayam busuk atau dari daging tikus ya. Karena itu makanan kesukaan kami.     

      Di pelajaran berikutnya Nif sudah duduk bersama Nane, itu membuat Nif merasa lebih nyaman. Dan bagaimana pun juga duduk berdua di kelas akan terasa lebih rileks. Nane melirik Nif.
      “Kamu jangan senang dulu, aku biasanya suka berpindah-pindah tempat duduk dan di kelas ini kita memang sering bergantian teman duduk.” Kata Nane seakan menjelaskan agar suatu hari Nif tidak kaget melihat sikapnya.
      “Ya, aku tahu tapi terima kasih untuk hari ini. Mm…, ngomong-ngomong kamu tadi berangkat di antar sama Dio, ya?” tanya Nif agak ragu-ragu.
      “Nggak..” ujar Nane jujur. dan ia tahu kalau Nif sedang menyelidikinya.
      “O…” nada suara Nif menyebutkan ‘O’ terdengar agak aneh di telinga Nane. Nane melirik gadis yang disukai oleh Dio itu dengan seksama. Nif memiliki wajah yang sangat indah. Hidungnya kecil dan mancung, rambutnya panjang tanpa poni dan bibirnya tipis. Nane juga berambut panjang dan lebih hitam juga lebih lebat dari rambut Nif. Nane sudah mengalihkan pandangannnya, sebab pria yang ada di pojok kiri belakang sedang menatap Nif.
      “Ada yang terpesona tuh sama kamu….” Ujar Nane pada Nif dengan nada agak menggoda.
      “Siapa…?” Nif menatap Nane penasaran.
      “Tuh, di pojok kiri belakang…” sahut Nane tanpa menoleh ke belakang.
      Nif menoleh, dan belum sempat ia membalas senyum pria itu, guru mereka sudah masuk. Nif menatap ke depan sambil bicara agak berbisik pada Nane.
      “Sudah berapa lama kamu pacaran dengan Dio?” itu pertanyaan penyelidikan.
      Mendengar itu Nane hanya tersenyum. Pertanyaan seperti itu baru pertama kali ia dengar dan tidak perlu ia jawab, apalagi pada gadis seperti Nif yang nota bene disukai sama Dio.
                                                                            ***
Bersambunnng..>>

Jumat, 23 November 2012

Si Monette





                                                                          BAB 1
                                                           ‘PROLIGA TAHUN 2012’

Si Monette
       “Yah, dari tim Rajawali sedang siap-siap untuk melakukan servis ke area tim Elang dengan tehnik float-nya, dan bola mengarah pas ke Libero tim Elang, sang Libero mengoper bola lambung ke Tosser disambut dengan back set lalu mengumpan ke belakang dengan gaya jump toss di mana ada si Monette yang berdiri di posisi  empat yang tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan sedikit pun, langsung melakukan gerakan apprvoach-nya…..” sang komentator jeda beberapa detik lalu.. ”Yaaa…. Si Monette berhasil melakukan quick smash-nya tanpa bisa di-block oleh tim Rajawali!”
       Tim Elang bergembira dan mereka berpelukan sejenak lalu kembali siap-siap pada posisi masing-masing.
       Sang komentator kembali berkicau, karena tidak ada time out yang diminta dari pihak mana pun hingga permainan bisa dilanjutkan.
       “Macth point untuk tim Elang di set kelima ini, di mana tim Elang sudah memenangkan dua set sebelumnya dengan perolehan 25-23, 25-27, 25-22, 23-25 dan sekarang 14 dan 13….., apakah akan kembali terjadi pindah bola…? Si Monette masih berada di depan dan kita akan menunggu apa yang akan terjadi…., apakah ia akan menggunakan quick hit-nya? Atau dengan cross-shot-nya yang mematikan itu…? Kini si Maya sedang siap-siap untuk melakukan servis ke tim Rajawali di mana ke eman pemain sudah siap dengan posisi masing-masing, Maya akan melakukan jump serve…”
       Semua penonton yang berada di Istora Senayan diam seolah menahan napas,
supporter dari tim Rajawali deg-degan tak terkecuali juga supporter dari tim Elang. Dan yang lebih deg-degan adalah seorang pria yang sedang menonton siarang langsung di televisi dari rumah, ia adalah kekasihnya Monette, yang tak pernah diperbolehkan ikut menonton langsung di lapangan lantaran kelemahan Monette adalah tidak bisa fokus bermain kalau ada kekasihnya dekat lapangan alias deg-degan.
       “…Yap, Maya telah berhasil melakukan jump serve-nya ke area tim Rajawali disambut dengan tenang oleh kapten tim Rajawali, apakah tim Elang akan memenangkan final Proliga tahun ini? Atau tetap berada di runner-up seperti tahun kemarin….? Bola telah kembali ke tim Elang setelah Monette berhasil mem-block serangan dari tim Rajawali, sang Tosser memberikan operan pull back kepada Monette dan……..”
       ……..???

                                                                     *******


7 Februari 2000
Sore itu, seorang gadis kecil terlihat sedang asyik duduk bersandar pada kaki ayahnya yang lagi fokus menonton pertandingan babak penyisihan turnamen bola voli antar kampung yang diadakan tidak begitu jauh dari tempat tinggalnya.
       Ada beberapa anak kecil yang juga ikut menonton bersama orang tua mereka, tapi kebanyakan anak-anak hanya menghabiskan waktunya untuk jajan di tempat itu yang kebetulan banyak pedagang dadakan selalu hadir setiap ada momen yang menghadirkan keramaian. Tapi gadis yang berusia sekitar tujuh tahun itu malah asyik sekali melihat para pemain voli yang sedang berlaga itu tanpa merasa terusik dengan berisiknya suara komentator dari pengeras suara yang disediakan oleh panitia pelaksana turnamen.
      Mereka duduk tidak terlalu dekat lapangan karena ayahnya mungkin takut anaknya kena
smash oleh ketiga pemain nasional yang kebetulan masuk pada salah satu tim yang sedang berlaga di lapangan itu.       Pria-pria jangkung yang sedang membela tim mereka terlihat gesit sekali melakukan passing dan  tossing bola pada temannya lalu sang spiker menuntaskan operan itu dengan strong spike-nya. Semua momen dan gerakan dari para pemain itu tak pernah lepas dari mata si gadis kecil, dan detik berikutnya ia berdiri dan melompat kegirangan saat salah satu pemain berhasil mem-block.
       “Min, hati-hati, Nak” ujar ayahnya takut anak itu jatuh karena melompat seolah ingin meniru sang blocker tadi.
       “Dia hebat Ayah!” teriaknya dengan suara nyaring bercampur dengan suara-suara riuh dan tepuk tangan para penonton.  
                                                                           ***


Gadis itu segera turun dari motor butut ayahnya lalu berlari ke dalam rumah untuk mencari ibundanya.
       “Ibu, Monette baru saja menonton bola sama Ayah.”
       “Ya, Ibu tahu.” Sahut ibunya yang kebetulan sedang menonton televisi karena tadi suaminya sudah pamit. Gadis kecil itu ikut duduk di depan tivi sedang adik laki-lakinya berlari menemui ayahnya untuk diajak keliling kampung naik motor.
       “Bu, Monette mau ikut main seperti kakak-kakak di lapangan itu.”
       “Apa?” wanita tiga puluhan itu kaget mendengar permintaan anak gadisnya. “Main bola?
Tidak! Anak perempuan tidak boleh main bola kaki, main bola itu pekerjaannya anak laki, kamu sekolah saja nanti jadi dokter atau jadi pramugari.” Tukasnya mengira gadis kecilnya ingin bermain bola kaki.      
       “Tidak, jadi pramugari nanti pesawatnya jatuh, Monette ikut jatuh.” Kata gadis kecil itu
dengan polosnya.
                                                                       **
       Ia dinamai ayahnya Mintonette dengan nama panggilan Monette. Ayahnya suka memanggil ‘Min’ sedang ibunya memanggil ‘Mon’. si Monette kecil terlihat manyun karena ibunya melarang main bola tapi ia tidak akan putus asa, sebab ia belum menyampaikan keinginannya itu kepada ayahnya yang sering mengajaknya menonton turnamen sejak ia usia lima tahun.
       Ia kembali ke kamarnya di mana tempat ia dan adiknya tidur, Monette mengambil buku yang pernah dikasih ayahnya saat tiga bulan sebelum ia masuk SD. Sebuah buku dengan ketebalan tak lebih dari seratus halaman, buku tentang sejarah asal usul permainan bola voli dan ternyata dari buku itulah Monette tahu arti namanya. Ia mengulang lagi membaca buku itu….,
       “Pada awal penemuannya, olahraga permainan bola voli ini diberi nama Mintonette. Olahraga Mintonette ini pertama kali ditemukan oleh seorang Instruktur pendidikan jasmani (Director of Phsycal Education) yang bernama William G. Morgan di YMCA pada tanggal 9 Februari 1895, di Holyoke, Massachusetts (Amerika Serikat).
William G. Morgan dilahirkan di Lockport, New York pada tahun 1870, dan meninggal pada tahun 1942. YMCA (Young Men’s Christian Association) merupakan sebuah organisasi yang didedikasikan untuk mengajarkan ajaran-ajaran pokok umat Kristen kepada para pemuda, seperti yang telah diajarkan oleh Yesus. Organisasi ini didirikan pada tanggal 6 Juni 1884 di London, Inggris oleh George William.
Setelah bertemu dengan James Naismith (seorang pencipta olahraga bola basket yang lahir pada tanggal 6 November 1861, dan meninggal pada tanggal 28 November 1939), Morgan menciptakan sebuah olahraga baru yang bernama Mintonette. Sama halnya dengan James Naismith, William G. Morgan juga mendedikasikan hidupnya sebagai seorang instruktur pendidikan jasmani. William G. Morgan yang juga merupakan lulusan Springfield College of YMCA , menciptakan permainan Mintonette ini empat tahun setelah diciptakannya olahraga permainan basketball oleh James Naismith. Olahraga permainan Mintonette sebenarnya merupakan sebuah permainan yang diciptakan dengan mengkombinasikan beberapa jenis permainan. Tepatnya, permainan Mintonette diciptakan dengan mengadopsi empat macam karakter olahraga permainan menjadi satu, yaitu bola basket, baseball, tenis, dan yang terakhir adalah bola tangan (handball). Pada awalnya, permainan ini diciptakan khusus bagi anggota YMCA yang sudah tidak berusia muda lagi, sehingga permainan ini pun dibuat tidak seaktif permainan bola basket.
Perubahan nama Mintonette menjadi volleyball (bola voli) terjadi pada pada tahun 1896, pada demonstrasi pertandingan pertamanya di International YMCA Training School. Pada awal tahun 1896 tersebut, Dr. Luther Halsey Gulick (Director of the Professional Physical Education Training School sekaligus sebagai Executive Director of Department of Physical Education of the International Committee of YMCA) mengundang dan meminta Morgan untuk mendemonstrasikan permainan baru yang telah ia ciptakan di stadion kampus yang baru. Pada sebuah konferensi yang bertempat di kampus YMCA, Springfield tersebut juga dihadiri oleh seluruh instruktur pendidikan jasmani. Dalam kesempatan tersebut, Morgan membawa dua tim yang pada masing-masing tim beranggotakan lima orang.
Dalam kesempatan itu, Morgan juga menjelaskan bahwa permainan tersebut adalah permainan yang dapat dimainkan di dalam maupun di luar ruangan dengan sangat leluasa. Dan menurut penjelasannya pada saat itu, permainan ini dapat juga dimainkan oleh banyak pemain. Tidak ada batasan jumlah pemain yang menjadi standar dalam permainan tersebut. Sedangkan sasaran dari permainan ini adalah mempertahankan bola agar tetap bergerak melewati net yang tinggi, dari satu wilayah ke wilayah lain (wilayah lawan).”(1)
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
                                                                                           (1)By : duniabaca.com Sumber: id.wikipedia.org                                                                                             
                                                                       ***
       Tidak tahu mengapa Monette senang sekali membaca buku pemberian ayahnya itu meski ia belum begitu paham apa maksud dari isi buku itu.
       Monette kecil kembali membalikan lembar demi lembar halaman buku dengan posisi badannya sudah rebahan di atas tempat tidur usang, ia membaca hingga lelah sampai tidak mendengar ibunya memanggil agar ia segera mandi.
                                                                     *******

Vito, Januari 2012
Pria usia sepuluh tahun yang baru saja keluar dari sekolahnya duduk di bangku yang ada di depan halaman gedung sekolah SD Negeri 07 Ciputat. Ia sedang menunggu jemputan, entah mengapa Pak Damar yang biasa menjemputnya agak terlambat hari itu. Jika saja ia membawa ponsel sudah ia telepon sopir keluarganya itu, sayangnya pihak sekolah tidak mengizinkan anak-anak membawa telepon genggam ke sekolah.
       Baru saja ia duduk dua menit di sana, teman-temannya yang kebetulan rumahnya dekat dari sekolah mengganggu Vito.
       “Kenapa lo, ga berani pulang sendiri? Makanya jangan keseringan dijemput deh, kayak anak Mami saja.” Goda teman sekelasnya yang dikenal suka iseng.
       “Kenapa emangnya? Abis ini aku mau latihan voli di GOR, kalau sekedar pulang sih, bisa aja tinggal nyetop angkot bayar seribu juga nyampe rumahku.” Balas Vito yang tahu pasti kalau jarak sekolah dari rumahnya hanya tiga kilo meter, sedang jarak GOR ke rumahnya tujuh kilo meter.
       “Hah? Main Voli? Olahraga apaan tuh?” tambah anak iseng itu sambil tertawa dan dua temannya yang lain ikut tertawa sedang si Vito tak beranjak dari tempat duduknya. Ketiga teman sekelasnya itu masih ingin menggoda Vito. “Voli? gak zaman main voli sekarang yang ada bola kaki men, hihihihi…. Mana ada pemain voli dikenal di dunia ini, apalagi di negara kita…” ia melirik kedua temannya seakan minta dukungannya seperti biasa. “Lo, lo pernah dengar nama pemain bola voli? Pastinya nggak, kan? Yang ada juga.. Cristiano Ronaldo, Messi dan si Andik..!, atau Bambang Pamungkas.” kembali ia menatap Vito. “Siapa nama pemain voli yang lo tahu, sebut satu nama saja, gue mau dengar!” Katanya dengan nada meledek Vito.
       Baru saja Vito ingin menyebutkan nama-nama pemain voli yang sangat ia kagumi tapi keburu ditegur.
       “Hei, hei…. Pada ngapain?” satpam sekolah menegur anak-anak itu. “Kalian harus segera pulang, nanti orang tua kalian cemas di rumah.” Ujar pria paruh baya dengan seragam satpam lengkap mendekati mereka.
       “Ya, Pak.” Kata ketiga anak itu berbarengan sambil ngeloyor pergi sedang Vito masih duduk di tempatnya. Pak satpam itu ikut duduk di sebelah Vito.
       “Kamu sedang menunggu jemputan, ya?” tegur pak satpam itu, seperti biasa ia sangat peduli dengan anak-anak yang di sekolah itu, kepeduliannya bahkan lebih besar dari kecemasannya pada setiap anak-anak yang mau menyebrang jalan. Tak jarang ia sendiri keserempet motor untuk menyelamatkan anak-anak agar sampai di tepi jalan. Meski ada anak yang sudah besar dan berani nyebrang sendiri, ia tetap merasa wajib menyeberangkannya.
       “Ya, Pak.” Jawab Vito jujur. “Nggak tahu nih, gak biasanya pak Damar telat.” Ujar Vito dengan nada cemas sebab ia takut nanti terlambat sampai di tempat latihan.
       Pak satpam mengeluarkan ponselnya. “Ini, kamu telepon saja, siapa tahu mobilnya mogok.” Ia memberikan telepon genggamnya pada Vito untuk digunakan. Anak itu ragu-ragu tapi pak satpam itu harus beranjak untuk menyebrangkan anak-anak yang ingin pulang dengan berlawanan arah dari sekolah mereka. “Cepat ambil, Bapak mau bantuin temanmu yang mau ke seberang.” Katanya lagi agar Vito segera mengambil ponsel dari tangannya.     
       Akhirnya Vito meraih ponsel dari tangan pak satpam. Pria itu sudah berjalan untuk membimbing anak-anak sedang Vito menatap ponsel pak satpamnya yang baik hati itu lalu coba menekan nomor pak Damar. Dua detik saja sudah tersambung.
       “Ya, halo…?” 
       “Pak, ini Vito. Bapak lagi ada di mana?” nada suara Vito terdengar biasa walau sebenarnya ia cukup cemas.
       “Aduh, den Vito…. Ini Bapak masih di rumah ada sedikit masalah dengan mobilnya, tunggu ya, sebentar lagi kelar.” Kata pak Damar dengan suara sangat menyesal, sedang ia masih membetulkan mobil yang mana tadi pagi masih baik-baik saja.
       “O, gini aja Pak, Vito naik angkot aja pulangnya, nanti ke GOR baru di antar ya? Udah dulu, ini Vito pake telepon pak satpam nggak enak lama-lama telepon.” Beritahunya.
       “O, ya sudah.”
       “Bagaimana?” pak satpam sudah berdiri di samping Vito.
       Anak sepuluh tahun itu mengembalikan telepon pak satpam. “Ini Pak, terima kasih. Bapak benar, ada masalah dengan mobilnya. Saya naik angkot saja soalnya takut lama, nanti jam tiga ada latihan biar nggak telat.” Jelas Vito.
       “O, latihan? Latihan apa?”
       “M… main voli.” Beritahu Vito tanpa ragu. Ia tak akan malu seandainya pak satpam itu juga akan mengejeknya jika ketahuan latihan voli.
       “Voli? Bagus itu, di mana?” pria itu sepertinya ingin tahu. Ia tidak menyangka kalau anak  baru yang ia kenal pendiam dari kalangan atas itu mengikuti permainan voli.
       “Di GOR, setiap selasa dan minggu.”
       Pria itu duduk lagi di dekat Vito. “Sudah lama?”
       “Belum, Pak. Baru beberapa bulan saja. tepatnya sebulan setelah saya pindah ke sini.”
       “Mm… kamu suka permainan itu?” pak satpam merasa tertarik dengan cerita Vito.
       “Ya, tadinya Ibu saya menginginkan saya masuk klub badminton dan Ayah nyuruh masuk  SSB, tapi….”
       “Tapi kamu lebih menyukai voli?” potong pak satpam. Vito mengangguk. “Tidak apa-apa, jarang anak seusia kamu menyukai permainan voli, kalau kamu suka maka tekunilah dan giat berlatih.” Tutur pak satpam dan Vito suka karena lelaki itu mendukungnya. “Tapi Bapak jarang melihat kamu latihan voli di sini, di sekolah kita.”
       “O, di sekolah bolanya keras sekali Pak dan terasa sangat sakit di tangan, kalau pun jam
olahraga jarang dimainkan… atau mungkin juga karena teman-teman tidak ada yang suka main voli.” Tutur Vito tidak begitu mengerti apa sebab sehingga teman-temanya kurang menyenangi permaian itu, apalagi ingat ejekan ketiga temannya tadi.
       “Kamu ada benarnya juga.” Ia melirik anak itu sejenak lalu berdiri karena melihat ada angkot yang mendekat, ia menyetop angkot itu mendahului Vito yang sudah berdiri. “Itu angkotnya, jangan sampai kamu terlambat latihan. Hati-hati.”
       Vito mengangguk. “Terima kasih, Pak.” Anak itu naik ke dalam angkot dan pria empat puluhan yang sudah tujuh belas tahun menjadi satpam di sekolah itu tersenyum padanya.
                                                                            *
GOR, Pukul 15.00.
Seminggu kemudian, Vito telah tiba di tempat latihannya, pria sepuluh tahun dengan tubuh agak tambun itu sudah mengenakan sepatu dari rumah dengan seragam latihannya yang disediakan dari pihak klub setelah ia membayar uang pendaftaran.
       Ada beberapa anak pria dan wanita yang seusia dengannya juga ada anak tingkat SMP sekitar lima belas orang dan kesemua anak-anak yang ikut latihan tidak lebih dari dua puluh tujuh orang.
       “Hai, Vit….” Sapa salah satu teman Vito. Vito menyambutnya dengan senyuman dan sebuah jabat tangan seperti biasa, lalu ia dikejutkan dengan kedatangan seorang wanita manis, yang sudah sangat amat dikenal oleh semua anak pecinta bola voli di tanah air.
       Wanita itu masuk bersama seorang wanita dan pria pelatih klub tempat Vito latihan, sejenak Vito merasa tidak percaya dengan pemandangan itu. Bagaimana mungkin seorang pemain muda yang sudah bermain di TIMNAS datang ke tempat itu.., tak beda jauh dari yang lain, sempat terpaku melihat kedatangan salah satu pemain andalan dari klub Elang itu.
       Separuh ada yang berteriak senang sedang yang lain masih terpaku dan takjub, ternyata sosok yang sering mereka lihat di televisi itu dengan kenyataannya lebih tinggi aslinya. Berbondong-bondonglah mereka berjabat tangan dan tak ketinggalan menggunakan kesempatan  untuk foto bersama. Saat Vito berjabat tangan wanita itu memegang kepala Vito.
       “Kamu yang bernama Vito?” ia ingat saat ayahnya menyebutkan ciri-ciri Vito.
       “Ya, Kak.” Kata Vito setengah tidak percaya kalau wanita itu tahu namanya.
       “Ada salam dari Ayah saya, latihan yang lebih keras ya.” Gumanya agak berbisik pada Vito. Sedang yang lain sempat bertanya-tanya sendiri apa yang wanita itu bisikan.   
       ‘Ayah?!’  batin Vito tak mengerti apa maksudnya. ‘Ah, biarlah itu menjadi pertanyaan di
dalam hatiku dan aku akan menemukan jawabannya nanti.’
       Pelatih memperkenalkan gadis itu secara resmi pada anak didiknya, sekaligus sang pemain voli TIMNAS menyumbangkan bola baru untuk klub yang baru merintis itu.
       Sang atlet pun menyampaikan sepatah dua patah kata untuk memotivasi mereka yang baru mengenal permainan bola voli.
       “Adik-adik yang ada di sini yang mungkin karena keingian sendiri atau karena kemauan dari orang tua kalian, tidak masalah. Kalian datang ke sini karena hobi atau karena memang orang tua kalian ingin mengenalkan bola voli pada kalian, yang kata orang tak kenal maka tak sayang, perlu kalian ketahui satu hal, cobalah segala sesuatunya dengan serius, berjuanglah… karena tidak ada perjuangan yang sia-sia. Tapi jika kalian memang tidak berminat setelah menjalani beberapa minggu latihan dan menyukai olahraga yang lain, maka bicarakanlah pada orang tua kalian dengan baik-baik, karena kakak rasa zaman sekarang tidak semua orang tua yang memaksakan kehendaknya.”
       Beberapa orang tua yang kebetulan mengantar anaknya ikut mendengar kata-kata pemain muda itu jadi terpukau. Dan mungkin di atara mereka ada yang kebetulan memasukan anaknya ke tempat itu padahal anaknya sendiri ingin masuk ke cabang olahraga lain.
       “Semua bisa dimusyarawahkan, sebelum kalian terlambat karena setelah pergi dari sini kalian bisa masuk ke olahraga lain yang kalian sukai dan bisa berprestasi, karena bagaimana pun juga semua terserah kalian dan prestasi di bidang olahraga apa pun semuanya kembali demi bangsa kita tercinta ini. Tapi jika kalian berada di sini karena menyukainya dan ingin berprestasi…..maka tidak ada yang tidak mungkin, tetap semangat, ya.” Gadis itu mengakhiri
ucapannya disambut tepuk tangan oleh anak-anak.
       Sedang Vito masih memikirkan gadis itu dan sebelum pamit gadis ia mengedipkan sebelah matanya pada Vito membuat Vito tambah penasaran.
       Gadis itu telah keluar dari dalam GOR, di luar ia sedang ditunggu oleh teman prianya yang tadi sengaja mengantar gadis itu mampir, karena sebenarnya ia akan melangsungkan pertandingan turnamen terbuka yang diadakan setiap setahun sekali. Pria dengan rambut cepak itu sudah duduk di belakang stir dan tersenyum pada kekasihnya.
       “Bagaimana?” sapanya seperti biasa, lembut, sopan dan penuh perhatian.
       “Bagaimana apanya? Kamu sih, kenapa tadi tidak ikut masuk.” Protes gadis itu disertai senyuman apalagi ingat dengan wajah Vito yang tembem namun manis.
       “Nggak enak kesannya kalau aku masuk, ayok…nanti terlambat, sebentar lagi kamu main, kan?” pria itu menyalakan mesin mobilnya.
       “Main kedua, biasanya sekitar setengah lima, kamu nanti tetap di mobil ya.” Pintanya seperti biasa. Pria itu melirik kekasihnya lalu tersenyum sebab sudah mengerti maksud dari permintaan itu. Ia tidak boleh menonton langsung di lapangan. Meski terkadang ingin sekali.
                                                                         *

       Masih di dalam GOR, pelatih sedang menjelaskan secara detil tentang gadis tadi yang juga sempat menyumbangkan dua buah bola dengan mutu terbaik.
       “Kalian tahu berapa usia wanita tadi? Ia baru sembilan belas tahun dan sudah sering
memperkuat tim Indonesia bermain di Asia, waktu usia 15 tahun ia sudah memperkuat timnas junior, dan ikut andil menaikan pringkat timnas di kejuaraan tingkat Asia tahun kemarin.” Jelas sang pelatih dengan semangat, karena ia juga terkejut saat pemain muda itu meneleponnya dan mengatakan akan berkunjung ke tempat latihan. Sebagai pribadi ia menyukai anak muda yang selalu rendah diri itu. Memiliki segudang prestasi namun tidak pernah melupakan asal usulnya.
       Anak-anak menjadi lebih semangat berlatih apalagi setelah melihat langsung pemain nasional dari dekat dan menyempatkan diri mampir di tempat mereka berlatih, itu merupakan semacam gairah sendiri bagi anak-anak itu. Tapi Vito, ada atau tidaknya kunjungan gadis itu tak akan pernah menyurutkan niatnya untuk tetap giat berlatih. Tak peduli semua teman di kelasnya mengejek atau tergila-gila dengan permainan bola kaki atau olahraga yang lainnya.
       Di mobil, di parkiran GOR, pak Damar sedang dihubungi oleh ibunya Vito. Wanita karir itu selalu memantau setiap kegiatan anaknya...>
***
Bersambung ke halaman berikutnya,

Jumat, 16 November 2012

Si Monette


'Kisah atlet bolavoli'

       Dan, dioper ke tosser yang sedang menghadap ke arah pemain yang berada di posisi 4 dan ketika itu juga kedua blocker tim lawan siap-siap melompat untuk mem-block smash dari spiker tim Elang, namun diluar dugaan sang tosser melambungkan bola pendek kebelakang punggungnya menuju ke arah Monette yang sudah siap melakukan serangan mematikannya, dalam hitungan detik smash keras dari Monette mendarat di lapangan lawan tanpa bisa di-block sama sekali. Tepuk tangan penonton disertai sorak senang mengelu-elukan gerakan cepat si Monette. Monette pun langsung memeluk tosser-nya diikuti temannya yang lain. Point untuk tim Elang bertambah, saat itu pelatih tim lawan meminta time out, semua pemain dari kedua tim berkumpul menuju ke pinggir lapangan di mana masing-masing pelatih sedang menunggu untuk memberikan wejangan kepada pemainnya.
       Penerjemah dari tim lawan sedang menyambung kata-kata sang pelatih kepada awak tim yang tadi sempat marah kepada blockers-nya. “Mengapa kalian tidak mengerti dan melupakan umpan-umpan variasi dari tosser itu? Kalian sudah sangat mengenali gaya permainannya,’kan? Kalian harus jeli!” ujar sang penerjemah padahal sebenarnya bukan itu yang telah dikatakan oleh sang pelatih melainkan seperti ini…..
       “Kalian ini bodoh sekali! Masa tidak kenal gaya fullback yang sering dilakukan tosser yang satu itu?! Ingat itu!”
       Pelatih dari tim Elang sedang memberi semangat untuk semua pemainnya. “Jangan terlena, mereka tidak akan memberikan peluang untuk kita menang jadi tak ada yang boleh lengah.” Katanya dengan nada semangat.
                                                                   **
       Libur seminggu, intinya bukan libur tapi tim Elang akan bermain lagi minggu depan jadi Monette minta izin pulang untuk bertemu keluarganya dan si pengacau jiwanya akhir-akhir ini. Dialah si O’Niel yang sering membuat hati Monette galau tak kala istirahat latihan. Apalagi pria itu tidak akan menjumpai Monette di lapangan karena memang tidak diizinkan.
       Di rumah Monette menceritakan kepada kedua orang tuanya tentang keajaiban seorang tosser idolanya dengan rasa bahagia yang luar biasa.
      “Bukannya ia sudah seringkali bermain dengan kamu? Dan beberapa kali turnamen ke negara Asia, ‘kan?” ujar sang Ibu namun tidak ingin mengecewakan anaknya, ia pun menanggapi cerita Monette dengan senang hati sambil menyediakan makanan anaknya dengan lauk telor dadar kegemaran Monette dari kecil.
       “Ibu benar, tapi minggu kemarin itu sangat berbeda, Bu. Selama ini Monette hanya bicara sekilas sama dia, dan foto juga selalu bersama tim tapi kemarin terasa sangat spesial. Monette bicara banyak sama dia sekaligus tanya tentang pengalamannya dan bagaimana bekerjasama yang baik dengan tim. Yang selama ini diajarkan oleh pelatih terasa berbeda jika bicara langsung dengannya. Dia memang sangat luar biasa, Monette tahu kalau menjadi seorang tosser itu sangat sulit, mungkin satu dibanding seratus orang yang bisa seperti dia.”
Monette masih menggebu-gebu dengan ceritanya.
       “Tapi bagi Ibu, kamu tak kalah hebatnya… sudah banyak sekali prestasi yang kamu proleh selama ini. Meski tim putri Indonesia belum pernah menjadi juara satu di negara Asia Tenggara tapi prestasinya sudah cukup membanggakan.” Ujar Liandy yang selalu mengikuti perkembangan perbolavolian dunia. Dan ia sudah merasa bersyukur karena setelah menjadi atlet voli Monette anaknya sudah banyak sekali membantu ekonomi keluarga. Dari dulu yang latihan ibarat senin kamis, ongkos juga terkadang memotong uang sayur yang lumanyan banyak tak membuatnya menyerah demi masa depan anaknya serta cita-cita mulia Monette. Dan sekarang mereka sudah bisa merenovasi rumah mungil mereka yang berada di sebelah istana Mega Disty yang mulai sepi.
       Mega Disty sekarang tidak seperti dulu lagi, ia sudah menjadi anak yang baik meski satu persatu harta keluarganya menjauh dari mereka. Bisnis yang ayahnya jalankan selama ini sepertinya sudah mulai bangrut. Tapi Monette tahu Mega berubah bukan karena itu, ia menjadi anak baik karena telah bergabung dengan atlet-atlet di mana selalu mendapatkan pelajaran tentang hidup serta kedisiplinan. Ia bukan lagi Mega Disty yang sombong dan menganggap permainan bolavoli itu sekedar iseng demi menyaingi seseorang. Ia perlahan menjadi tulang punggung keluarganya serta ibunya sudah banyak belajar tentang hidup bahwa seseorang itu harus punya skill bukan mengandalkan yang sudah ada. Itulah hidup, Monette sudah mulai memahami hal itu. Selagi eksis ia ingin menabung disamping membantu keluarga.
       Sore itu sang Ayah menyampaikan sesuatu yang membuat Monette tersentuh. Ayahnya menceritakan tentang seorang anak lelaki yang begitu giat berlatih bolavoli ditengah ejekan teman-temannya dan menganggap kalau bermain bolavoli itu semacam permainan kampungan anak kampung.
       “Dia anak orang kaya, tadinya orang tuanya ingin memasukan dia di olahraga badminton dan sepertinya anak itu lebih tertarik ke bolavoli. Tadinya ia bercerita kalau anak-anak sebayanya mungkin tidak menyukai olahraga bolavoli karena bolavoli yang ada disekolahnya sangat tidak memenuhi standar, kulit bolanya keras dan sangat tidak nyaman digunakan, tapi sekarang Ayah rasa semua itu sudah diubah, bolavolinya sudah bisa dipakai untuk anak-anak usia SD tapi entah mengapa tetap saja anak-anak tidak berminat dalam olahraga yang satu itu. Teman Ayah yang juga mengajar di salah satu SMU swasta mengatakan hal yang sama, siswa yang mengikuti ektrakulikuler bolavoli hanya enam orang dan siswinya tak lebih banyak dari itu sedang di dalam basket melebihi kapasitas.” Tutur sang Ayah didengar Monette dengan sangat santai, lalu ia pun mengeluarkan pendapatnya.
       “Kalau menurut Monette sih, hanya kurangnya pengenalan saja. Ayah tahu sendirikan berapa kali setahun turnamen bolavoli disiarkan di televisi-televisi? Sedang olahraga seperti sepak bola atau yang lainnya hampir setiap hari, jadi wajar saja tidak banyak anak-anak yang familiar dengan bolavoli.” Kilah Monette dan ayahnya pun menganggukkan kepalanya pelan. “Anak yang Ayah sebutkan itu latihan di mana, Yah?” tanya Monette merasa tertarik.
       Pria itu pun membertahukan di mana tempat anak itu latihan bahkan menyebut nama dan ciri-ciri anak itu.
                                                                           **
       Monette memberitahukan kepada O’Niel saat pria itu meneleponnya bahwa ia akan mengunjungi sebuah tempat latihan bolavoli dan meminta pria itu menemaninya ke sana.
       Mengetahui Monette sedang ada di rumahnya, seorang kenalan pun meminta Monette ikut bermain di timnya meski hanya turnamen kampung, dengan merasa tidak keberatan gadis itu pun tidak pernah menolak kalau ada yang meminta tolong kepadanya. Itulah Monette, beruntung ia mendapatkan seorang kekasih yang sangat mengerti kondisinya.
       Di dalam mobil O’Niel pun memohon. “Sayang, andai nanti tim kamu masuk final di turnamen Proliga aku boleh ya ikut ke Glora Bung Karno?”
       “Upps… ada apa denganmu?” kata Monette dengan jenaka sekaligus manja.” Pada pria anggota TNI itu.
       “Aku sih nggak lupa dengan janji itu, tapi masa iya sih kamu masih grogi main kalau aku
nonton langsung?”
       Monette  memperlihatkan senyum prihatinnya sekaligus merasa bersalah kepada O’Niel. “Yah, gimana kalau nanti pas pertandingan babak penyisihan kamu datang. Siapa tahu penyakit grogiku sudah menghilang.” Monette coba mencari jalan tengah.  *
Halaman 193, bersambung...>