Minggu, 25 Maret 2012

Rejang girl (semulen Jang)



                               REJANG GIRL 
                               ( Smulen Jang )
                                         ***
 
    Rejang Lebong adalah salah satu kabupaten di propinsi Bengkulu. Terletak di pegunungan Bukit Besar. Penduduk asli terdiri dari suku Rejang dan suku Lembak. Suku Rejang mendiami kecamatan Kota Padang, Padang Ulak Tanding, Sindang Kelingi.
        Kabupaten Rejang Lebong memiliki 15 buah kecamatan yang masih dalam pengembangan. Sebelah utara berbatas dengan Kota Lubuk Linggau dan Kabupaten Musi Rawas, sebelah Selatan dengan kabupaten Kepahiang, sebelah timur berbatas dengan kabupaten Lebong dan propinsi Jambi, sedangkan sebelah barat berbatas dengan kabupaten Lahat.       
       Ibukota kabupaten ini di Curup. Terletak 85 km dari kota Bengkulu. Mata pencarian penduduk adalah bertani, dagang, PNS dan lain-lain. Perkebunan rakyat adalah perkebunan kopi, karet. Sedangkan palawija banyak ditanam di lereng gunung Kaba. Sebagian lagi merupakan petani pembuat aren/gula merah.
                                                                           ***
 
      Nane, Dio dan Anifatul Hasannah adalah tiga anak remaja yang bergelut dengan perasaan mereka. Dio dan Nane berteman sejak dari kanak-kanak, sementara Anifatul adalah gadis yang datang dari luar kota.. yang kemudian masuk ke dalam kehidupan Nane dan Dio.
      Nane gadis yang baik hati, tulus dan sangat menyayangi Dio. Dia pelajar SMA kelas tiga dan Dio duduk di bangku kuliah semester empat. Mereka hidup di perkampungan yang jauh dari Ibukota, mungkin lebih enam ratus ribu mil jaraknya.
     Dio anak tunggal dan hidup hampir serba berkecukupan di kampungnya. Dia pemuda yang baik, cakep dan berkulit coklat, penyayang dan peduli pada lingkungan. Tidak punya pacar tapi ke mana-mana ditemani oleh Nane.
      Nane tidak pernah menyembunyikan rahasia apa pun dari Dio, apalagi tentang keluarganya. Kedua sahabat itu saling mengenali satu sama lainnya. Nane memiiki rambut panjang, cantik alami dan tidak sombong dan bisa melakukan pekerjaan apa saja. ia punya seorang adik laki-laki berusia 12 tahun. Kedua orangtuanya menghabiskan hari-harinya di sawah dan di kebun. Tak jarang Nane membantu orangtuanya dan sering juga berkunjung ke rumah Dio.
     Orangtua Dio memiliki usaha perkembunan karet yang luas, sawah dan mempunyai toko di rumahnya untuk membeli hasil panen para petani karet dan yang lainnya, lalu dijual ke luar kota. Sebagai anak yang memiliki uang lebih, Dio tidak pernah membiarkan dirinya hanya menghabiskan uang orangtuanya, bagaimana pun sebagai anak yang baik, dia tahu bagaimana cara membantu kedua orangtuanya. Bahkan ia rela terjun langsung untuk membantu usaha mereka.
      Anifatul gadis yang tegar  memiliki kulit yang putih, rambut panjang, berperawakan lembut dan sangat menyayangi ibunya. Bersama Ibunya ia pindah dari Jakarta ke perkampungan Nane, Rejang Lebong. Itu nama daerah Nane. Ibunya seorang perawat senior dan menempati rumah kosong yang pernah di tempati seorang perawat yang sudah pindah mengikuti suaminya. Anifatul tinggal berdua dengan ibunya, mereka meninggalkan Jakarta setelah Ayah Anifatul Hasannah meninggal. Anifatul tidak bisa melupakan kematian Ayahnya, yang ia kira sengaja dibunuh orang.
      Kehadiran Anifatul di kampung itu, secara tidak langsung merubah kehidupan Nane dan Dio, karena dia hadir di tengah-tengah kedua sahabat itu. Dio jatuh cinta dengan Anifatul, dan Anifatul menawarkan persahabatan dengan Nane. Dio sering mengajak Anifatul jalan-jalan, ke kebun, sawah dan juga mengajaknya main ke rumah.
      Anifatul yang tadinya jatuh cinta dengan Dio coba menepis perasaannya karena mengira Nane dan Dio adalah pasangan kekasih. Tapi setelah Dio mengutarakan perasaanya kepada Anifatul, memaksa gadis itu berpikir, apa iya, Dio dan Nane tidak pacaran? Karena mereka terlihat serasi dan selalu bersama.
      Setelah menyadari situasi, Nane menjadi pendiam dan sangat hati-hati. Dan entah kenapa ia merasa mulai memiliki perasaa dan keinginan yang begitu kuat untuk memiliki seseorang. Dan ia dilanda kebingungan yang amat sangat luar biasa. Entah ia merasa mulai jatuh cinta dengan Dio? ataukah ia menyayangi Anifatul?
      Nane tahu kalau Dio dan Anifatul saling mencintai, Nane tidak mungkin menyingkirkan Anifatul dan tidak bisa melihat Dio bersama Anifatul. Dio juga tidak ingin Nane berubah, bagaimana pun ia sangat menyayangi wanita itu. Anifatul mulai memahami apa yang dialami oleh Nane, itu yang membuatnya bingung… karena ia merasa kalau Nane juga menyukainya sebagai orang yang lebih dari sekedar sahabat.
      Gejolak demi gejolak berbenturan, Dio tidak tahu bagaimana perasaannya kepada Nane, begitupun Nane. Anifatul juga tidak tahu perasaan apa yang dirasakan Nane dengannya? Ada hal yang ingin ia ketahui dari Nane, sebaliknya apakah Nane bisa menyembunyikan perasaan itu...??
      Hanya Nane yang tahu, bagaimana perasaannya kepada Dio dan juga terhadap Anifatul Hasannah.
     Bergelut dengan cinta, menjaga lingkungan hidup dari para pembalak hutan dan sebuah rahasia yang hanya di ketahui oleh orang-orang tertentu, yang apabila terkuak akan sangat mempengaruhi hubungan ketiga anak manusia itu...!!!

                                                                 ********
BAB 1
REJANG LEBONG.

      Di sebuah kampung yang begitu indah, nyaman, sejuk serta hijau dan bisa dipastikan jauh dari polusi udara apalagi pemanasan global. Kendaraan yang hilir mudik sepertinya tidak kenal dengan yang namanya macet. Kendaraan memang tidak bisa dibilang sepi, apalagi kendaraan roda dua, sepertinya sudah menjamur, ditambah lagi jalanannya yang mulus serta terawat dengan rapih.
      Sebuah gunung besar terlihat berdiri kokoh di belakang perkampungan, seperti layaknya tembok hijau raksasa yang memagari bagian belakang kampung hingga terlihat seperti pemandangan indah yang menakjubkan, dan didampingi dengan bukit kembar, namanya Tebo ( Tebo = Gunung, dalam bahasa Rejang ) Pabes dan Tebo Tepuk. Nama yang unik namun indah, seindah gunungnya. Dulu gunung itu sangat hijau tapi sekarang mulai memudar, karena pohon-pohon besarnya sudah berkurang.
      Kampung Nane terletak di perlintasan Curup-Muara Aman, empat kilo dari Muara Aman dan sekitar 71 kilo dari kota Curup, sudah menjadi kelurahan yang terdiri dari tiga kecamatan. Juga sudah jadi sebuah Kabupaten, terdiri dari beberapa kelurahan.
      Penghasilan para penduduk berasal dari hasil pertanian dan perkebunan. Ada beberapa orang yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil.
      Di kabupaten Lebong sudah banyak sekali sekolah SMA Negeri, salah satunya yang tertua yaitu sekolah tempat Nane di Muara Aman. Yang berada di lingkungan pasar Muara Aman.
                                                                 ***

      Siang itu, Nane sedang duduk di teras rumahnya yang sederhana bahkan sangat sederhana. Rumah itu tepat di pinggir jalan yang tidak begitu jauh dari persimpangan jalan. Ia menanti kedatangan Dio sejak lima belas menit yang lalu. Kata orang pekerjaan menunggu itu adalah paling membosankan, tapi tidak berlaku buat Nane. Dio sudah meneleponnya dan mengatakan akan muncul sepuluh menit lagi, meski sudah lewat, ia tidak akan menelepon balik untuk memastikannnya. Nane asyik menikmati lagu di ponselnya yang murahan dan tidak dilengkapi dengan memory external yang hanya bisa menyimpan dua atau tiga lagu saja.
      Sebuah lagu Astrid dengan judul ‘Tentang Rasa’ lalu menyusul lagu Ungu yang bertajuk
‘Percaya padaku’ Nane sangat menikmati lagu-lagu dari negeri sendiri khususnya ‘Kotak’, meski hampir semua remaja Indonesia sedang menggilai anak-anak boybands atau girlbands juga demam bola TIMNAS, namun bagi Nane, yang berada jauh dari Glora Bung  Karno hanya cukup mendo’akan saja semoga Indonesia berjaya di mata dunia dan bisa menjadi kebanggaan semua rakyatnya. Meski kenyataannya TIMNAS kalah juga di final melawan Malaysia. Masih betah berada di Runer-up, juga kalah di final piala Sultan Brunai.
      Kapan ya, TIMNAS tidak lagi selalu berada di nomor dua…>>???

      Beberapa menit berikutnya sebuah mini bus berhenti di depan rumah Nane, tetapnya satu rumah di sebelah rumah yang posisinya pas di depan rumahnya. Rumah itu kosong karena baru ditinggal penghuninya kira-kira sebulan yang lalu. Dengan berhentinya mini bus itu tidak membuat Nane sedikit pun beranjak dari tempat duduknya, ia masih bersandar di kursi kayu yang di terasnya dengan headset masih menempel di telinganya. Satu dua orang lewat, dan mobil angkutan umum yang memang terlihat lewat sekitar lima menit sekali.
      Seorang wanita empat puluhan terlihat keluar dari mini bus, diikuti seorang gadis sepantaran Nane kemudian menyusul dua buah koper yang lumayan besar dikeluarkan oleh sang kondektur. Dua wanita itu seperti Ibu dan anak. Berikutnya mini bus itu berlalu dan meninggalkan dua wanita yang sangat asing di mata Nane. Kedua wanita itu sedang terlibat perbincangan serius lalu mengangkat koper mereka ke atas rumah kosong itu. bisa Nane pastikan kalau kedua wanita itu tidak sedang menunggu mobil, sebab tidak mungkin orang menunggu mobil tapi meletakkan kopernya di teras rumah orang, meski pun kosong.
      Rumah Nane ada di sebelah timur, dan pasar Muara Aman terletak di barat yang kira-kira berjarak 4 kilo meter dari rumah Nane. Satu lagi, ada dusun yang paling ujung namanya Semelako juga berjarak 4 kilo meter dari rumah Nane, posisinya ada di utara rumah Nane.
      Nane masih mengamati kedua wanita itu, si Ibu terlihat melirik ke kiri dan ke kanan dan si gadis yang berambut panjang itu tanpa sengaja beratatapan dengan Nane, tanpa sadar Nane menciptakan sebuah senyuman dan itu spontan. Dibalas gadis itu dengan disertai anggukan kecil, tampangnya ‘Laura Basuki’ sekali. Si Ibu lalu meninggalkan anaknya bersama kedua koper mereka. Gadis itu melirik dua buah kursi yang ada di teras itu lalu menarik satunya untuk ia duduk. Ia melirik ke Nane lagi saat Nane sedang menatap jam tangannya.

      Dua puluh menit sudah berlalu dan belum pernah Dio terlambat separah itu, ‘Ke mana tu anak?’ pikir Nane. Tanpa diliputi rasa kesal, Nane beranjak dari kursinya dan masuk ke dalam rumahnya, beberapa saat kemudian ia keluar lagi dan gadis yang di depan itu masih duduk menemani kopernya sambil memainkan ponsel di tangannya. Dia terlihat lelah tapi tidak ingin menampakannya.
      Nane memutuskan untuk menyapa gadis itu dengan menghampirinya. Ia menyeberang jalan. Melihat gelagat Nane, gadis itu berdiri seakan menghargai niat baik Nane.
      “Hai…?” katanya menyapa duluan. Gadis itu terlihat feminin sekali.
      “Hai….” Balas Nane. ”Mm…..?”
      “Saya… Anifatul Hasannah.” Ia menatap gadis yang mirip Lucy Lawless waktu masih muda itu.
      O ooo… sepertinya dia bukan orang satu kampung dengan Nane dan itu jelas sekali, karena tidak ada gadis seusianya tidak dikenal oleh Nane di kampungnya. Nane harus menggunakan bahasa nasional dengan gadis itu. ”O, saya Nane, Nane Doyosi.” Mereka saling mengulurkan tangan dan berjabat erat. ”Aku belum pernah melihat kamu sebelumnya dan wanita yang tadi……?”
      “Wanita yang tadi itu Ibu saya, dia sedang ke Puskesmas untuk bertemu dengan kepala Puskesmas. Kami akan menempati rumah ini.”
      “Ibu kamu perawat ya?” kata Nane sekaligus menebak dengan pasti.
      “Kok tahu?”
      “Nebak saja, ini rumahkan pernah ditempati oleh seorang perawat.” Jelas Nane. Anifatul tersenyum dan mempersilahkan Nane duduk di kursi yang satunya. Nane menurut, ia duduk dan menatap Anifatul. Gadis itu juga melakukan hal yang sama. ”Kamu masih sekolah?”
      “Ya, kelas tiga. Aku harap juga kamu masih sekolah seperti aku, agar kita bisa satu sekolah.”
      “Maksud kamu, kamu pindah sekolah?”
      “Aku hanya memiliki Ibu, dia pindah tugas dan otomatis aku harus menemaninya.”
      “O.” Nane manggut-manggut kecil.
      “Pindahan dari Jakarta, lumayan jauh. Satu jam perjalanan udara dan hampir tiga jam perjalanan darat.” Tutur Anifatul seakan ingin menceritakan perjalanan panjangnya nyaris seharian ini. Dan Nane sangat paham sekali, untung sekarang jalanan sudah sangat bagus. Biasanya perjalanan dari Bandara Fatmawati Soekarno menuju kampungnya membutuhkan waktu empat jam. Dan Nane tidak tahu berapa jam perjalanan dari rumah Anifatul menuju Bandara SOETTA.

      Sebuah motor besar berhenti di depan rumah Nane. Nane melirik arlojinya, ‘Dua puluh lima menit’ gumannya. Anifatul melirik Nane. Lalu menoleh pada sosok yang sedang membuka helm itu. ternyata seorang pria jangkung, menawan dan mirip Vino G. Bastian. Kulitnya coklat dan rambutnya lurus, hidung mancung dan berbodi atletis.
      “Kamu kayaknya kedatangan tamu, tuh.” Ujar Anifatul. Mereka melihat pria itu turun dari motornya. Sebelum ia naik ke rumah Nane, Nane memanggilnya dengan tepukan tangannya. Pria itu menoleh. Wajah plamboyannya langsung tertangkap oleh Anifatul, sesaat pria itu dan Anifatul saling tatap. Nane melambaikan tangannya agar pria itu datang ke tempat mereka.
      Dengan langkah mantap ia menuju ke tempat Nane dan wanita asing itu sedang duduk. Anifatul mengamati pria itu dari sepatu hingga ujung rambutnya. Mendekati sempurna. Pria itu tersenyum dengan raut wajah penuh penyesalan kepada Nane.
      “Maaf Nan, uku telaaat nyen…” (Sori ya Nan… aku sangat terlambat.) Katanya dalam bahasa Rejang asli. Anifatul tidak mengerti sama sekali apa yang mereka bicarakan.
      “Duai puluak tujuak menit pat puluak tujuak detik.” (Dua puluh tujuh menit empat puluh tujuh detik) Kata Nane setelah melirik jam tangannya. ”Sudo ba…” (Sudahlah…) ia pun membalas dengan bahas Ibu pertiwinya lalu menatap pria itu, dan pria itu sudah melirik Anifatul yang mengangguk ramah. ”Kamu pasti punya alasan yang sangat kuat, kan? Kita pakai bahasa Indonesia, sebab yang ada di depan kamu sekarang ini adalah Anifatul Hasannah, pindahan dari Jakarta. Dan kita akan pergi setelah ibunya kembali.” Lanjut Nane. Ia tidak ingin gadis itu tersinggung dengan bahasa mereka. Nane menoleh pada Anifatul. Anifatul melirik Nane kemudian pada pria itu. ”Anif… ini Dio, kenalkan…” lanjut Nane.
      Pria yang bernama Dio itu mengulurkan tangannya disambut erat oleh Anifatul sambil berdiri.
      “Anifatul Hasannah, boleh dipanggil dengan Nif.”
      “O, baru pindah ya?” kata Dio tak kalah ramah.
      “Ya, begitulah…” ujarnya mencoba bersikap wajar. Di hati kecilnya mengatakan kalau pria yang ada dihadapannya itu benar-benar menawan, beralis tebal dan berwajah oval.
      “Ibunya sedang menemui kepala Puskesmas untuk mengambil kunci rumah.” Jelas Nane kemudian.
      “Jika kalian ingin pergi, tidak usah menunggu ibuku. aku tidak apa-apa kok sendiri di sini.” Ia tidak enak hati pada dua pasangan sejoli itu. apalagi ia tahu kalau Nane sudah lama menunggu pacarnya itu.
      “Nggak apa-apa kok, kita tungguin.” Kilah Dio sambil duduk di kayu teras. ”Di Jakarta di mananya?” Dio mulai bertanya.
      “Jakarta Selatan.” Jawab Nif dengan tenang.
      “O,…” nada suara Dio mengandung arti lain. Bisa ia bayangkan jika remaja kota akan tinggal di kampung seperti Anifatul itu. dia tersenyum.
      “Kamu kenapa senyum-senyum seperti itu?”  Nane merasa aneh dengan senyum Dio itu, dan ia hafal betul dengan bahasa tubuh Dio. Bagaimana ia mengagumi sesuatu dan menyepelekannya. Dan Nif juga merasakan kalau Dio sedang menertawakannya.
      “Ya, sedang ngebayangin kehidupan remaja-remaja Metropolitan aja…” ujar Dio santai.
      “Begitu ya?” Nif merasa sedikit tersinggung. Ia tidak menyangka kalau pria kampung seperti Dio bisa menertawakannya, jarang orang melakukan itu. kebanyakan pria mengaguminya dan bahkan berlomba-lomba untuk mendapatkan kasih sayangnya. Bagaimana pun juga Nif adalah sosok seorang gadis yang banyak diidamkan pria. Dia memiliki semua yang pria harapkan, kulit putih, langsing, rambut panjang, hidung mancung juga ramah. Tapi dia tidak tahu kalau Dio mendambakan seorang wanita yang berotak cemerlang, baik dan pemberani, satu lagi… yaitu tulus.
      “Jangan salah paham gitu dong Nif…, yang ada di otakku adalah gadis-gadis manja yang sering berkeliaran di mall-mall untuk menghabiskan uang orangtuanya. Syukur-syukur orangtuanya tidak memakai uang rakyat…” kata Dio dengan enteng.
      “Kebanyakan nonton televisi sih…” celetuk Nane, agar Nif tidak terlalu tersinggung.
      “Hei..! mana ada laki-laki seperti aku, betah duduk di depan TV?” ia menatap Nane sejenak.
      “Itu ibuku sudah kembali.” Tukas Nif setelah melihat ibunya berjalan ke arah mereka. Mereka menunggu wanita itu naik ke teras. Lalu beramah-tamah sejenak, kenalan dan Dio membantu Nif dan ibunya membawa koper ke dalam. Rumah itu ternyata sudah dibersihkan oleh petugas Puskesmas dua hari sebelum Nif dan ibunya datang.
      Sebelum pergi, Dio berpesan kepada kedua wanita itu, tidak boleh sungkan-sungkan minta bantuan jika mengalami kesulitan apa pun. Nif merasa sangat senang mendengar kata-kata Dio itu, sebagai gadis yang baru menjajaki kakinya di daerah asing, dia sangat membutuhkan kata-kata seperti itu, apalagi Dio mengatakannya langsung. Bagi Nif rasanya pasti berbeda.
                                                                      ***

      Di atas motor, Dio bertanya kepada Nane. ”Kamu tidak mau tahu kenapa aku terlambat?” dengan bahasa Indonesia.
      “Memangnya mau kasih tahu? Kalau merasa perlu kenapa tunggu aku bertanya?” sahut Nane.
      “Ya ya… aku libur kuliah selama dua bulan…”
      “Oh, ya…?” kata Nane tidak terlalu kaget.
      “Kok, cuma oh ya…? Ini kabar baik, kita bisa menginap di kebun dan menunggu durian runtuh seperti tahun-tahun sebelumnya…” sahut Dio rada kesal karena Nane tidak menyambut gembira ceritanya.
      “Terus… apa hubungannya dengan datang terlambat?” kata Nane tanpa bermaksud untuk protes. Ia hanya ingin tahu kenapa Dio bisa ngaret separah itu.
      “Sebelum datang ke rumah kamu, aku menunggu kedatangan pak Ramli untuk membawakan barang-barang yang kita perlukan di pondok nanti.” Motor Dio berbelok ke arah pasar untuk mengantar Nane membeli buku. Beberapa saat saja, motor besar itu sudah berhenti di depan toko buku. Keduanya masuk ke dalam toko. Nane mengambil apa yang ia butuhkan. Buku IPA, Dio menggodanya.
      “Buat apa sih beli buku gituan? Nilai bagus juga percuma kan kalau tidak mau meneruskan kuliah?” cerocosnya dengan cerewet.
      Nane menatap Dio sejenak. ”Kamu tahu kan? Dan aku tidak perlu mengulanginya setiap hari? Dan tidak ada yang percuma di dalam hidup ini. Lagian aneh saja seandainya nanti adikku bertanya pada orang lain mengenai pelajaran yang tidak bisa ia jawab di PR-nya.” Jawab Nane tidak mau kalah.
      “Ya ya.. tapi kan aku masih punya banyak buku dan aku rasa kurikulum dua tahun yang lalu tidak akan jauh berbeda dengan yang sekarang…dan kita bisa memesan buku lewat internet yang lebih komplit dan bermutu hmm…?” sahut Dio sambil bermaksud membayar buku Nane dan langsung ditepis oleh Nane. Dio mengalah asalkan Nane mau diajak makan.

      Nane menurut dan ia hanya memilih memesan es campur.
      Di warung sederhana Dio yang juga ikut pesan es, terlihat sangat menikmati es campurnya, buah yang segar di campur dengan susu. Lalu menatap Nane, gadis itu memang memilih tidak melanjutkan sekolah dengan alasan orangtuanya tidak mampu membiayai kuliahnya dan ia memilih adiknya yang akan sekolah tinggi. Dio  memang tidak bisa memaksa kehendak Nane itu…meski ia sangat menyayangkannya. Karena baginya pribadi, pendidikan di zaman sekarang tidak pandang pria atau wanita, semuanya berhak menimba ilmu.
      “Nan…, besok setelah kamu pulang dari sekolah kita langsung ke kebun ya? Aku sudah tidak sabar mendengar suara buah durian jatuh dari pohonnya yang menimbulkan suara ‘bug’ di tanah.”
      “Mana bisa seperti itu, setelah pulang aku kan harus membereskan rumah dulu.. lalu masak untuk makan sore bagi keluargaku. Kalau tidak masak, nanti pulang dari sawah orangtuaku makan apa? Dan adikku pasti akan berteriak kelaparan…” ia menatap Dio sekilas.
      “Alasan kamu selalu saja seperti itu. eh…ngomong-ngomong si Nif itu cakep juga ya? Dan namanya unik.” Kata Dio tiba-tiba.
      Nane tersenyum mendengar pujian tulus dari Dio untuk Nif. Memang tidak bisa dipungkiri, Nif memang berbeda. Tidak sedikit gadis cantik di kampung mereka tapi Nif adalah produk luar kota yang sedikit banyaknya akan membawa keistimewaan sendiri. Dan Nane sendiri tidak bisa di samakan dengan Nif. Nane gadis manis yang sering membiarkan kulitnya bersahabat dengan matahari. Nane memiliki gigi yang bagus, tubuh langsing yang agak sedikit berotot, tinggi semampai rada pendiam dan mempunyai senyum yang sangat menawan.
      “Kamu suka ya, sama dia…?” hela Nane kemudian dengan nada agak pelan.
      “Sepertinya dia adalah perempuan yang aku impikan selama ini.” Ia tersenyum serius pada gadis itu. ”Kira-kira dia mau tidak ya, kalau aku tembak untuk menjadi pacarku? Semoga saja dia tidak punya pacar di Jakarta atau setidaknya sudah putus.” Harapnya agak berlebihan.
      Lagi-lagi Nane tersenyum. Tidak ada gadis yang menolak Dio untuk menjadi pacarnya. Dio itu
memiliki postur tubuh yang tidak kalah kerennya dengan pria-pria kota, bahkan seorang model sekali pun. Dio malahan terlihat lebih macho, kuat dan hanyak kelebihan positif yang ia miliki.
      ‘Hei Nane…. Kamu ini kenapa? Kenapa baru sekarang kelebihan-kelebihan pada diri Dio menyeruak di kepala kamu?’ Nane berguman sendiri. ’Sial!!’ ia memaki dirinya.
      “Apa si Nif itu tipe cewek terakhir kamu…??” tambahnya lagi.
      “Maksud kamu?” Dio mengeryitkan keningnya seakan melupakan sesuatu.
      “Aku sudah mendengar puluhan cewek yang kamu sukai dan selalu berakhir dengan kata-kata ‘Dia ternyata bukan tipeku..’ apakah itu juga akan terjadi dengan Nif?”
      “Jangan ngomong gitu dong Nan, setidaknya aku kan sudah bicara jujur sama kamu…, kamu sendiri tidak pernah bicara tentang perasaan kamu dengan aku. Aku tidak pernah tahu siapa pria yang kamu sukai, apakah cowok itu ada di sekolah kamu? Atau jangan-jangan kamu jatuh cinta dengan salah satu guru di sekolahmu…!? Kamu pikir aku tidak tahu kalau ada guru keren di sana? Aku juga pernah sekolah di tempat kamu, ingat itu.” Kata Dio seolah memarahi gadis itu.
      “Andai itu terjadi,…” Nane tertawa dan kali ini Dio tidak bisa mengartikan arti dari tawa itu. ”..dan aku tidak akan memberitahukannya ke kamu.” Tambah Nane dengan pasti membuat Dio rada keki juga karena dia tidak ingin ada yang Nane sembunyikan darinya, sebagaimana kejujurannya pada gadis itu selama ini.
      “Jadi itu arti persahabatan kita selama ini?” Dio mulai terlihat serius. ”Sampai detik ini aku tidak pernah tahu tentang perasaan kamu yang sebenarnya. Siapa yang kamu sukai dan siapa yang kamu benci? Dan pada siapa kamu pernah jatuh cinta? Usia kamu itu sudah tujuh belas tahun, mustahil kamu tidak pernah merasa menyukai pria di kampung ini. Apa iya kamu belum pernah jatuh cinta?”
      Nane menghirup es campurnya lalu menatap Dio. ”Apa iya seorang gadis yang menginjak usia tujuh belas tahun, bahwa hal terpenting dalam hidupnya adalah cinta!?? Apa ada peraturan seperti itu? aku rasa tidak!” Nane membela diri.
      Dio tertawa. ”Nane—Nane… andai saja kamu pacarku sudah aku cium kamu.” Kata Dio tidak main-main. Nane ikut tersenyum mendengar kata-kata konyol Dio.
      Tiba-tiba mata Nane tertuju pada tumpukan kayu besar yang masih basah, yang disusun rapih di seberang jalan. Sepertinya siap akan dijual.
      “Di…, liat deh di seberang jalan itu!” ujar Nane. Mata Dio menoleh ke sana. Di sana terlihat batang-batang pohon yang dipotong kira-kira berukuran satu meter dengan masih berbentuk bulat sebesar paha orang dewasa. Disusun sekitar satu kubik. ”Kebayang tidak sih, jika setiap hari ada sebanyak itu pohon ditebang, gimana jadinya kampung kita ini? Lama-lama gunung kesayangan kita akan botak.” Hela Nane.
      “Kamu benar Nan… tapi apa yang harus kita lakukan?” Dio merespon dengan cepat.
      “Kita lihat saja nanti. Kita pulang yok.” Ajak Nane. Dio pun mengiyakan.
                                                                     ooooooo
     
      Pagi-pagi sekali, Nif sudah tiba di SMA  Negeri 1 Muara Aman. Dia pikir seperti di Jakarta akan kena macet, dan tidak menyesuaikan selisih waktu yang ada di Jakarta dan Bengkulu, apalagi di Rejang Lebong tempat Nane, selisih waktunya lebih lambat hampir setengah jam dari Jakarta.
      Untung saja sudah ada orang yang datang, ia datang ke ruang guru untuk melapor kepindahannya. Tapi yang ada hanya tukang sapu ruangan. Akhirnya ia memutuskan untuk mencari kantin, meski pun ia sudah sarapan namun ia ingin melihat suasan kantin di sekolah itu. Ibu kantin mengamatinya sejenak.
      “Ibu baru lihat kamu, apa kamu anak pindahan…?” katanya dengan bahasa daerah Rejang. Biasanya ia menggunakan Bahasa Bengkulu yang hampir mirip dengan Bahasa Padang. Di Muara Aman bahasanya sudah campur aduk, karena sudah banyak para pendatang. Dari Padang, Cina bahkan dari pulau Jawa.
      “Maaf Bu…?” tanya Nif tidak mengerti. Ia mengamati wanita bersih dan putih itu, penampilannya tidak kalah dengan Ibu kantin yang ada di sekolah Internasional, pantas saja kantinnya terlihat bersih dan rapih.
      Yakin sudah dia, kalau gadis semampai itu anak baru, bukan anak kelas satu yang baru masuk, apalagi ini sudah pertengahan semester. ”O…pantesan datangnya pagi sekali.” Ia mulai menggunakan bahasa Nasional. ”Pindahan dari mana? Mm… silahkan duduk.” Katanya ramah.
      “Terima kasih, Bu.” Nif masih mengamati wanita yang kira-kira tidak jauh lebih tua dari ibunya. Ia duduk di bangku panjang dan Ibu kantin langsung menyuguhkannya segelas teh manis yang hangat.
      “Gratis untuk hari pertama kamu.” Ujarnya kembali ramah.
      “Tidak usah Bu, saya sudah sarapan kok.” Nif merasa tidak enak.
      “Tidak apa-apa, minum saja.” katanya tulus membuat Nif tidak tega untuk menolak. Si Ibu sudah kembali merapikan dagangannya. Penampilan wanita itu memang sederhana namun keramahannya terlihat tidak di buat-buat.
      “Terima kasih ya, Bu.” Kata Nif kemudian. Ia menyimak apa saja yang tersedia di kantin itu. ada bakso, nasi goreng, beberapa gorengan dan berbagai minuman ringan. Ruang kantin yang tidak jauh dari ruang guru itu sangat luas. ”Ibu sendirian…?” tanya Nif mencoba berbincang.
      “Tidak, sebentar lagi ada yang datang membantu Ibu, kalau sendiri bisa kualahan, apalagi kalau anak-anak sudah jamnya keluar istirahat.
      “Mm…” Nif paham sekali. ”Ini SMA negeri 1, apa Ibu kenal dengan perempuan yang namanya Nane?” ia berharap sekali kalau Nane sekolah di tempat barunya itu.
      “Nane, si jangkung itu? waktu kelas dua, dia ketua OSIS di sekolah ini, anaknya jarang ngomong tapi baik dan pintar. Dan satu lagi…” wanita itu berhenti sebentar merapikan perabotan kantinnya untuk menatap Nif. ”Anak sulung Ibu, tergila-gila sama dia.” Ibu kantin tertawa seakan menertawai anaknya sendiri, tapi tidak terlihat sedikit pun ia membenci Nane, yang ada hanya rasa kagumnya pada gadis itu. ”Meski pun sudah kuliah dan tinggal di tempat kost, anak Ibu masih sering menanyakan Nane. Tapi dengar-dengar, guru olah raga di sekolah ini mau menjadi pacaranya Nane, entah itu benar atau tidak Ibu juga tidak tahu pasti. Tapi kata anak-anak, Nanenya tidak mau.” Katanya sedikit senang. ”Mm.. ngomong-ngomong nama kamu siapa dan pindahan dari mana?”
      “Nama saya Anifatul Hasannah dan pindahan dari Jakarta…” ia ragu-ragu mengatakan kata Jakarta itu. malu kalau-kalau wanita itu akan menertawainya. Tapi wanita itu tidak menertawainya sama sekali, ia bahkan tidak peduli seperti apa Jakarta itu, yang ia tahu apa pun keputusan para petinggi Jakarta sering menyusahkan kehidupannya di kampung. Nif merasa bersyukur dan ia berpikir, tentu saja Nane menolak pria mana pun karena Dio adalah pria yang paling keren yang pernah ia lihat. Nif membatin. Hingga detik ini ia masih ingat dengan sangat jelas bentuk garis-garis wajah Dio. Dio pemuda lain dari pada yang lain. Kulitnya memang terlihat coklat, tapi dari penampilannya ia sama sekali tidak terlihat dari kalangan orang susah. Ia punya wibawa, berkelas dan tidak gampang mengagumi sesuatu. Entah kenapa Nif merasa tertantang. ”Bu… sepertinya sudah ada guru yang datang, saya harus pergi untuk bertemu dengan salah satu guru, terima kasih atas suguhan teh hangatnya.” Kata Nif tak kalah tulus.
      “O, ya. Sama-sama.”

      Sepuluh menit berikutnya. Nif masuk ke dalam kelas, bersama seorang guru yang akan memberi pelajaran di kelas itu. Nane yang duduk di bangku tengah mengangkat kepalanya.
      ‘Ternyata dia anak IPA juga.’ Gumannya dalam hati.
      “Selamat pagi, Pak….” sapa anak-anak pada guru mereka.
      “Pagi……” balas guru perlente itu. Dia asli dari Jawa Timur mengajar bidang study fisika.
      Acara perkenalan singkat pun berlangsung, tidak ada yang istimewa. Hanya ada satu dua murid cowok yang terlihat norak, biasalah seperti cowok-cowok mana pun yang ada di muka bumi ini kalau melihat cewek langsung merespon. Nif disuruh duduk di bangku kosong.. sekilas ia dan Nane saling pandang. Nif tersenyum dan berusaha dibalas oleh Nane sewajarnya.

      Pelajaran pertama dilewati Nif dengan agak berat, dalam arti masih kaku. Tidak ada suara-suara berisik yang terdengar, siswa terlihat tekun dan sepertinya sangat memanfaatkan waktu semaksimal mungkin. Nif jarang belajar dalam kondisi hening dan serius seperti itu, tapi ada juga hal yang bisa diselingi dengan candaan, dan guru masih terlihat ingin menjalin kedekatan dengan murid-muridnya.
      Adegan tanya jawab pelajaran pun berlangsung sangat teratur, Nane terlihat agak mendominasi pelajaran. Dan Nif sepertinya mulai menemukan kenyamanan di dalam kelas itu. apalagi jendela bagian atas terbuka semua dan angin alam masuk dengan sangat bebas.

      Pada saat jam istirahat tiba, sama saja dengan sekolah pada umumnya. Ada yang berusaha kenal lebih dekat dengan Nif, ada yang ke kantin dan tidak sedikit juga yang ke perpustakaan. Tidak ada yang bersikap berlebihan.
      Nane menghampiri Nif. “Selamat bergabung di sekolah ini… sudah selesai acara kenalannya?  Ikut ke kantin nggak?” ajak Nane dengan nada biasa, layaknya pada teman biasa pula.
      “Ya, tentu saja..” Nif tersenyum senang. ”Mm… Nan… bangku di sebelah kamu kan kosong, boleh nggak kalau aku nanti duduk di sana?” kata Nif. Ia tahu ada tiga bangku kosong di kelas mereka sementara yang terisi sekitar tiga puluhan.
      “Akan aku pertimbangkan…” ujar Nane dengan tersenyum sembari melirik sekilas ke arah Nif. ”Bercanda…. tentu saja boleh. Bangku itu milik semua murid yang ada di sekolah ini, dan siapa pun boleh menempatinya.” Mereka tersenyum lalu menuju kantin. Tempat yang sebenarnya tidak begitu disukai oleh Nane. Kalau tidak begitu lapar ia lebih senang menghabiskan waktunya di perpustakaan. ”Istirahat hanya lima belas menit, pukul satu lima belas sekolah bubar. Waktu berangkat sekolah aku tidak melihat kamu, memangnya tadi berangkat jam berapa?”
     “Jam enam..” jawab Nif dengan cepat.
      “Jam enam waktu Jakarta atau waktu kabupaten Rejang Lebong?” tanya Nane datar.
      “Beda, ya?” tanya Nif dengan polos, senyum tipisnya mengembang seakan baru sadar.
      “Ya, banget…” kata Nane. Mereka sudah ada di kantin. Nif melirik arlojinya, jarum kecil itu menunjukan pukul sebelas. Lalu ia memutarnya agar sesuai dengan waktu setempat.
      “Waktu istirahat tepat pukul setengah sebelas..” kata Nane agar Nif memutar sesuai dengan waktu yang ada di sekolah mereka.
      Nif memesan bakso, diikuti Nane. Nif ingin sekali mencoba bakso, sebab makanan yang nyaris ada di seluruh pelosok Nusantara itu, rasanya rata-rata sama. Enak.

      Tapi tolong, jangan membuat bakso dengan daging ayam busuk atau dari daging tikus ya. Karena itu makanan kesukaan kami.

      Di pelajaran berikutnya Nif sudah duduk bersama Nane, itu membuat Nif merasa lebih nyaman. Dan bagaimana pun juga duduk berdua di kelas akan terasa lebih rileks. Nane melirik Nif.
      “Kamu jangan senang dulu, aku biasanya suka berpindah-pindah tempat duduk dan di kelas ini kita memang sering bergantian teman duduk.” Kata Nane seakan menjelaskan agar suatu hari Nif tidak kaget melihat sikapnya.
      “Ya, aku tahu tapi terima kasih untuk hari ini. Mm…, ngomong-ngomong kamu tadi berangkat di antar sama Dio, ya?” tanya Nif agak ragu-ragu.
      “Nggak..” ujar Nane jujur. dan ia tahu kalau Nif sedang menyelidikinya.
      “O…” nada suara Nif menyebutkan ‘O’ terdengar agak aneh di telinga Nane. Nane melirik gadis yang disukai oleh Dio itu dengan seksama. Nif memiliki wajah yang sangat indah. Hidungnya kecil dan mancung, rambutnya panjang tanpa poni dan bibirnya tipis. Nane juga berambut panjang dan lebih hitam juga lebih lebat dari rambut Nif. Nane sudah mengalihkan pandangannnya, sebab pria yang ada di pojok kiri belakang sedang menatap Nif.
      “Ada yang terpesona tuh sama kamu….” Ujar Nane pada Nif dengan nada agak menggoda.
      “Siapa…?” Nif menatap Nane penasaran.
      “Tuh, di pojok kiri belakang…” sahut Nane tanpa menoleh ke belakang.
      Nif menoleh, dan belum sempat ia membalas senyum pria itu, guru mereka sudah masuk. Nif menatap ke depan sambil bicara agak berbisik pada Nane.
      “Sudah berapa lama kamu pacaran dengan Dio?” itu pertanyaan penyelidikan.
      Mendengar itu Nane hanya tersenyum. Pertanyaan seperti itu baru pertama kali ia dengar dan tidak perlu ia jawab, apalagi pada gadis seperti Nif yang nota bene disukai sama Dio.
                                                                              ***

      Pulang dari sekolah Nif memilih satu angkot dengan Nane, Nif memang suka bicara dan sepertinya dia ingin sekali tahu banyak hal tentang Nane, terutama Dio dan kampung halaman mereka. Ia berusaha melanjutkan obrolan mereka yang di kelas tadi.
      “Nan… kamu nggak suka ya, tentang pertanyaanku mengenai Dio?”
      “Nggak juga sih, bicara aja…” kata Nane santai. Kini mereka sudah ada di dalam mobil sejenis angkot. gedung sekolah mereka tidak begitu jauh dari pasar. Pasar tradisional juga pasar modern.. hingga secara otomatis mereka bercampur dengan ibu-ibu yang dari pasar, baik dari berdagang atau pun yang pulang habis belanja. Sementara pegawai sipil kebanyakan pulang naik motor.
      “Abis pulang sekolah kamu biasanya ngapain…?”
      “Beres-beres rumah, masak juga nyuci.. kadang juga bantuin orangtua di sawah.”
      Nif diam. Pekerjaan Nane dengannya tidak jauh berbeda, hanya saja Nif belum pernah ke sawah. Karena dia memang tidak pernah memiliki sepetak  sawah pun.

      Tiba di rumah, Nif memang membersihkan rumah yang baru ia tempati satu hari satu malam itu
bersama ibunya. Ibunya sedang bertugas di Puskesmas.. pulangnya mungkin agak sore.
      Tapi  sebelum pukul lima ibunya sudah pulang dan memeluk anaknya sejenak.
      “Bagaimana dengan sekolah baru kamu?” katanya dengan semangat. ”Tidak ada yang membuat kamu susah, kan?”
      “Ibu tenang saja, semuanya baik. Ibu sendiri bagaimana…?” kata NIf balik bertanya. Ibunya duduk di kursi dan Nif membawakannya segelas air putih.
      “Hari yang melelahkan, bekerja nyaris sepuluh jam.. tapi Ibu senang karena rekan kerja di sini semuanya tulus dan menyenangkan, tapi kalau Ibu masuk malam gimana ya, Nif?” ia mengkhawatirkan anaknya.
      “Ibu khawatir aku tidur sendirian di rumah ya? Bukankah kita sering melakukannya, Bu?’ wajah Nif tidak memperlihatkan rasa takut apalagi khawatir.
      “Ya, tapi ini daerah baru, gimana pun juga Ibu pasti khawatir sayang…, baiklah. Ibu mandi dulu ya.” Katanya setelah meneguk air yang di bawa Nif, ia ke kamarnya untuk mengambil baju ganti.
      Nif duduk di tempat ibunya tadi, matanya memandang ruang dapur yang sederhana itu. ada satu kompor minyak dengan satu tungku. Rak piring seadanya dan meja makan dengan dua kursi. Bagaimana pun juga Nif merasa bersyukur, tadinya ia tidak pernah berpikir mendapatkan tempat tinggal selayak itu. karena ibunya menceritakan kalau kampung yang akan mereka tinggali adalah sebuah kecamatan kecil. Yang ada di otak Nif saat itu adalah sebuah desa yang jalanannnya becek, dan para penduduknya yang kumal dan tidak berpendidikan. Nyatanya ia bertemu dengan Nane yang baik hati dan Dio yang keren. Rumah yang terletak dekat persimpangan itu ternyata terlihat ramai, tak jauh dari rumah itu ada warung besar. Ada counter pulsa dan sebuah bengkel otomotif. Dan malam harinya ada yang menjual makanan seperti pangsit dan bakso. Dan sapertinya Nif harus benar-benar bisa membawa diri. Karena orang di kampung selain memiliki jiwa sosial yang tinggi mereka juga sangat sensitif.
      Kamar mandi di rumah Nif ada di samping ruang masak. Tidak ada telepon juga tidak ada plafon di rumah itu, atap rumahnya dari seng. Untung di kamarnya dan ibunya terpasang plafon dari papan. Kalau Nif duduk malam-malam di ruang tamu ia memang agak sedikit merinding juga. Tapi rumah yang mereka tempati itu adalah gratis, yang di rekomendasikan oleh pihak Puskesmas. Nif menghela napas panjang. Di mana pun ia berada ia harus bersyukur memiliki seorang Ibu yang tegar dan menyayanginya dengan sepenuh jiwa. Nif bangga sama ibunya.

      Empat tahun yang lalu, Nif terkenang dengan rumah mewah mereka, yang ada pembantunya. Memiliki kolam renang dan berangkat ke sekolah di antar oleh seorang supir. Membayangkan semua itu membuat Nif sedih, namun ia tidak boleh menitikkan air mata. Jika ia dan ibunya sudah sejauh ini, itu menandakan kalau mereka tidak boleh cengeng. Beruntung Nif pernah menpunyai seorang Ayah yang mengajarkannya bagaimana menghadapi hidup, tidak percuma selama ini ibunya juga mengajarkan bagaimana menjadi orang yang mandiri. Tidak heran kalau ibunya hanya memberikan hari senin dan sabtu saja diantar ke sekolah dengan sopir, selebihnya Nif harus berani naik angkutan umum sendiri. Untuk menjadi orang susah memang dibutuhkan belajar dengan baik biar tidak kaget jika suatu saat sedang diuji oleh Tuhan. Kaya dan miskin itu dua-duanya adalah cobaan. Tetapi untuk menjadi orang kaya, semua orang pasti bisa, dan belum tentu semua orang bisa melewati hidup susah. Dan pada diri Nif sepertinya sudah ditamankan oleh kedua orangtuanya. Untuk mendapatkan uang jajan saja, Nif harus mendapatkan nilai yang bagus dulu, dan Nif sudah dibiasakan membersihkan tempat tidurnya sendiri, meski ada yang membantu di rumah.
      Sebagai ibu rumah tangga, ibunya tidak melepaskan pekerjaannya di Puskesmas meski memiliki seorang suami Pengacara yang mempunyai gaji yang lumayan. Di samping menyukai pekerjaannya, ia ingin berbagi dan senang memberi penyuluhan kesehatan kepada ibu-ibu yang sering memeriksa kesehatannya ke Puskesmas. Dulu pekerjaan baginya adalah sebuah kesenangan yang kemudian di beri gaji, tapi kini pekerjaan yang ia senangi itu berharap gaji untuk memenuhi kembutuhannya dengan Nif. Itulah kenyataan yang ia hadapi sekarang, suka atau tidak.

      Sehabis magrib Nif minta izin ke ibunya untuk ke rumah Nane yang ada di depan rumah mereka, dia adalah teman sekelas Nif. Saat keluar rumah ia sedikit kaget karena di simpang banyak sekali orang-orang berkumpul, tapi tidak ada yang rusuh atau pun telah terjadi sesuatu di sana.
      Nif menatap kondisi itu sesaat dengan dilanda kebingungan. Dia tidak tahu apa yang terjadi di sana. Ada banyak remaja terlihat sedang ngobrol. Ada yang berdiri di sisi jalan, ada juga yang sekedar jongkok bersama yang lainnya. Remaja-remaja itu ada yang cowok ada juga yang cewek. Nif ingat gedung bioskop. Di mana para remaja pria wanita sedang menunggu film di putar.
      Ia menghela napas sejenak, saat tiba di depan pintu rumah Nane. Nif mengetuk pintu, taklama kemudian seorang pria belasan membuka pintu.
      “Kakak yang di rumah depan ya…?” katanya. Sepertinya ia sudah tahu kalau yang menempati rumah depan itu adalah orang dari Jakarta.
      “Ya, kamu adiknya Nane, kan?” anak itu mengangguk. ”Nane-nya ada…?”
      “Ada di kamarnya, silahkan masuk. Biar saya panggilkan dulu.” Katanya dengan ramah.
      Nif mengusap kepala anak itu sejenak. ”Terima kasih ya.” Ia melangkah masuk, dari ruang tamu kedua orangtua Nane yang sedang menonton televisi sudah mendengar anak laki-laki mereka telah ngobrol dengan seseorang. Nif memberi hormat pada kedua orangtua itu.
      “Mencari Nane ya…?”sapa Ibu Nane. ”Ibu belum pernah melihat kamu, kamu temennya Nane?”
      “Saya yang menempati rumah kosong yang di depan Bu, bersama Ibu saya.” Kata Nif apa
adanya.  Sepertinya orangtua Nane baru sadar kalau rumah depan sudah ada yang menempati. Ia tersenyum dan adiknya Nane sudah mucul lagi.
      “Kak, kata kak Nane, ke kamarnya aja…” ujar pria cilik berpostur menyamai Nif itu. Nif melirik orangtua Nane dan pria paruh baya yang di kursi belakang terlihat mengangguk. Dia ayahnya Nane.
      “Sudah sana, masuk saja. kamarnya Nane ada di belakang.” Kata Ibu Nane supaya Nif tidak ragu-ragu.
      Nif melangkah menuju kamar Nane setelah di antar pria kecil itu, berat tubuhnya pasti tidak lebih dari 45 kg. pikir Nif. Nif mengetuk pintu.
      “Masuk.” Suara Nane terdengar sangat datar. Nif membuka pintu dan terlihat Nane sedang duduk di belakang meja belajarnya yang tidak bisa dibilang besar. Ia menoleh ke Nif. ”Masuklah…” katanya tidak begitu kaget melihat kemunculan tetangga seberangnya itu. ”Duduklah…” ia beranjak dari kursinya untuk memberikan tempat kepada Nif. Dia mengambil tempat di ujung mejanya dan mematap Nif yang sudah duduk di kursinya tadi. Nif melirik buku yang ada di meja Nane sekilas, sebuah buku IPA. Lalu ia melirik Nane. ”Ada apa?” kata Nane tidak bermaksud mendikte wanita itu.  
      Nif tersenyum. “Terima kasih, sudah membiarkan aku masuk dan memberikan aku tempat duduk… dan maaf sebelumnya karena sudah mengganggu waktu belajar kamu..” Nif bicara formal sekali seolah khawatir mengganggu Nane.
      Nane malah melihat itu bukan pribadi Nif yang asli, mungkin hanya sebatas rasa hormat saja atau tidak enak.
      “Nggak apa-apa, nyantai saja. Aku bisa belajar kapan saja, kadang-kadang subuh.”
      Nif menciptakan senyum lagi. Dia percaya dengan ucapan Nane, ia juga sudah membuktikan kalau Nane sangat menonjol dalam pelajaran apa saja di dalam kelasnya meski baru melewati satu hari di kelas dengan Nane. Nane memang tidak asal bicara.
      “Aku ke sini ingin minta jadwal pelajaran buat besok.” Kata Nif kemudian.
      “O…” Nane mengambil secarik kertas dari bukunya lalu dengan cepat menuliskan daftar pelajaran...dari hari senin hingga sabtu. Nif mengamati Nane yang menulis dengan sangat rapih, semua jadwal itu sudah ia hafal diluar kepalanya. Kini Nif mengamati wajah Nane, seingat dia.. wajah itu belum ada yang menyamai keindahannya di seantero SMA-nya. Meski agak coklat namun terlihat berkilau dan bersih. Hidungnya seperti hidung gadis melayu dengan batang yang kokoh dan indah. Dan bentuk wajahnya sangat berkarakter, seakan punya kepribadian yang sangat kuat. Nane melirik Nif yang sedang mengamatinya. Lalu keduanya tersenyum.
      “Kapan pertama kali kamu ciuman sama pacar kamu?” tanya Nif datar tapi pertanyaan itu sempat membuat Nane terperangah.
      “Apa?” Nane langsung mengangkat wajahnya. Tulisannya sudah selesai. Pertanyaan Nif itu sangat diluar dugaannya. ”Ini sudah komplit..” ujarnya kemudian, dan menyodorkan kertas itu. Nif masih mengamatinya. ”Kenapa kamu bertanya seperti itu…?” Nane sudah menetralkan perasaan kagetnya.
      “Nggak kenapa-napa sih, menurut aku itu pertanyaan yang biasa, kan? Dan aku melihat kamu dan Dio itu adalah pasangan yang sangat serasi.” Nif mengamati kertas yang sudah ditulis oleh Nane.
     Lagi-lagi ia menyebut nama Dio, Nane sadar betul kalau nama itu  sudah tertanam di otak Nif melebihi namanya sendiri. Ada apa dengan Nif? Pikirnya. Ia melipat kedua tangannya di dada dan menatap Nif dengan seksama. Jika menurut Nif itu pertanyaan biasa tapi menurut Nane itu adalah pertanyaan yang sangat pribadi. Nane tidak akan menceritakan hal semacam itu kepada orang terdekatnya sekali pun.
      “Sori Nan… aku tidak bermaksud untuk ikut campur urusan pribadi kamu, tapi ngomong-ngomong… anak-anak di luar pada ngapain ya…?”
      “Maksud kamu, anak-anak yang di pinggir jalan itu? paling-paling pada ngobrol saja…”
      “Apa mereka tidak belajar? Ini kan bukan malam minggu…?” tanya Nif masih tidak mengerti.
      “Nanti kamu juga paham sendiri.., aku ambil minum dulu ya, kamu ngopi nggak?”
      “Terima kasih, tidak usah. Aku juga sudah mau pulang kok, besok pagi berangkatnya bareng ya…?” ia meraih kertas yang sudah ditulis oleh Nane. ”Terima kasih banyak ya.” Ia beranjak.
      “Hmm… untuk berangkat sekolah bareng aku tidak bisa pergi pukul enam, dan aku tidak  bisa janji...” kata Nane tidak ingin gadis itu terbebani.
      Nif tersenyum dan diam sejenak. ‘Mana mungkin aku bisa berangkat bareng sama Nane kalau Nane diantar oleh Dio’ Nif jadi tersenyum sendiri setelah mendengar penjelasan Nane.
      “Ya, aku tahu…nggak apa-apa.” Nif pamit pulang di antar Nane sampai pintu depan. Nane tidak tahu apa yang ada di pikiran Nif tentang dirinya. Tapi Nane tidak ingin ambil pusing, itu urusan Nif. Bagaimana pun ia akan selalu berusaha untuk tidak berpikiran negatif terhadap Nif.
                                                                        ooooooo

      Pagi itu sebelum benar-benar terang, Ibu Nane mampir ke rumah Nif untuk menyapa orang yang baru tinggal di kampungnya itu. wanita pegawai Puskesmas itu merasa tidak enak hati.
      “Ibu, ibunya Nane ya?” tanyanya ramah setelah wanita itu menemuinya. ”Saya yang seharusnya datang ke rumah Ibu.”
      “Tidak apa-apa Bu, sama saja… saya juga baru tahu kalau Ibu yang menempati rumah ini, maklum.. saya pagi-pergi sudah pergi ke sawah dan sebelum gelap baru pulang. Nane juga baru sempat cerita semalam.” Jelasnya. Nif keluar membawakan segelas teh manis.. dengan seragam sekolahnya yang sudah rapih. Ibu itu tersenyum. karena Nane anaknya masih mencuci piring saat ia datang ke rumah Nif tadi.
      “Silahkan di minum, Bu.” Tawar Nif ramah.

 Bersambuunnnnnnnngg...>>>>

Rabu, 07 Maret 2012

Apabila, Cinta itu Tulus



SINOPSIS :
       Novel ini mengisahkan kisah seorang penyanyi kelas atas di negeri ini, namanya Rhaissa, ia sukses bukan saja di tanah air bahkan hingga ke mancanegara. Meski demikian ia tetap memegang teguh budaya bangsanya sendiri, menjaga norma-norma agama dan adat istiadat. Seorang pria mengaguminya bahkan bisa di sebut sebagai pengagum rahasia, dan membuat wanita yang bernama Rhaissa itu penasaraan.
       Saat pria lain ingin menjadi kekasihnya, ia bingung karena penggemar gelap itu seakan makin dekat dengannya, yang selalu mengirimkannya puisi-puisi indah. Juga seorang pengeran dari negeri seberang pun meminangnya. Apakah cinta mereka kepada Rhaissa itu tulus…???
       Rhaissa memang menikah dengan satu pria di antara mereka, tetapi ia tidak di karuniai keturunan hingga usia pernikahan mereka sebelas tahun, apakah pernikahan itu akan langgeng? Apalagi mantan kekasih dari suaminya muncul lagi di antara mereka.
       Rhaissa tahu pasti apa yang harus ia lakukan, meminta suaminya menikah lagi atau minta pisah? Pabila cinta itu tulus, maka apa pun bisa terjadi.
 

YANG TAK TERSENTUH….!
     
      Jutaan wanita tersenyum bangga melihat penampilanmu.
      Karena kau memegang teguh citra kaummu.
      Jutaan pria ingin menjamahmu, mereka menatap penuh kekaguman.
      Dirimu terus terbalut busana indah bak dewi kayangan.
             
              Anak kecil hingga orang tua menyukai suaramu.
              Mengenali suaramu dan wajahmu.. hingga ke mancanegara.
              Kau selalu tersenyum di setiap langkahmu,
              Dan, senyum itu sangat menawan,
     
      Meresahkan jiwaku, membangunkan setiap tidur malamku.
      Kau begitu tinggi untuk di gapai, begitu dalam untuk di selam.
      Dan begitu jauh untuk di raih…
             
              Pabila, kamu bukan milik jutaan orang…
              Mungkin sekarang kamu sudah menjadi milikku satu-satunya.
              Pabila, kamu bukan orang terkenal maka kamu akan kurengkuh ke dalam hatiku.
     
      Pabila, kamu hanya perempuan biasa, maka aku tak akan pernah merasa semiskin ini.
      Pabila, kamu telah menyanyi, maka telinga ini tak kan bisa mendengar yang lainnya.
      Pabila, kamu menebarkan senyum, maka seisi alam ini akan merasa cemburu.
                                                               *******

 
DAFTAR ISI :
NO                                                                                                                                    HALAMAN
1.  Pengirim puisi tanpa nama…………………………………….                                     3
2. Agoy dan Puisi…………………………………………………                                  24
3. Pernikahan Rhaissa…………………………………………….                                   46
4. Chaty…………………………………………………………..                                  83
5. Pilihan hidup…………………………………………………..                                  103
6. Aryan dan Rhara……………………………………………….                                 111
7. Penutup…………………………………………………………                               122

 

BAB 1
PENGIRIM PUISI TANPA NAMA.
        Rhaissa meletakkan lembaran puisi itu di atas mejanya. Itu lembaran yang ke 77 ia terima. Yang dikirim oleh seseorang dengan tulisan tangan, tanpa nama dan isinya tetap sama. Bukan di copy bukan pula di cetak. Rhaissa tidak pernah bosan untuk membacanya. Lembaran pertama ia terima adalah tepat setahun yang lalu.
        Puisi-puisi itu terkadang menghiburnya, tak jarang juga membuatnya menangis. Jika ia telah selesai membacanya, ia merasa seakan berada di antara mimpi dan kenyataan, sehingga tanpa sadar suara hatinya menjawab…..

        Pabila, aku tidak seperti sekarang ini,
        maka tentunya saat ini kita sedang duduk berdua di pan-
        tai, memandang laut luas yang tak terbatas dan tak berujung…
        Pabila......

        Rhaissa coba merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur mahal di kamarnya, kenyataan saat ini sepertinya sangat berbeda apabila ia telah berada di atas panggung, dielu-elukan oleh ribuan penggemarnya. Saat ini ia merasakan sepi yang amat sangat, seolah tidak seorang pun yang bisa memahaminya. Dan puisi-puisi itu sering kali mengganggu pikirannya. Ia menatap langit-langit kamarnya dan perasannya tambah berkecamuk. Ia menghela napas dengan berat.
                                                       *******

        Rhaissa adalah anak ke lima dari sembilan bersaudara. Ayahnya seorang guru SD dan Ibunya adalah seorang Ibu rumah tangga biasa, yang siap melayani keluarganya dalam 24 jam.    
        Rhaissa kecil, saat menginjak usia 2 tahun, sudah berani menyanyi di depan umum, baik di acara kawinan ataupun acara 17-san. Ia senang sekali kalau di minta untuk menyanyi. Keempat saudaranya sangat menyayanginya. Ia memiliki dua kakak laki-laki dan dua perempuan. Ibunya perlahan mulai menyadari kalau anak bungsunya itu memiliki bakat menyanyi, seperti halnya ia pun senang menyanyi, juga neneknya.
        Rhaissa kecil sebenarnya ingin menjadi seorang guru, seperti Ayahnya. Meski ia sadar profesi seorang guru itu memiliki gaji yang sangat kecil. Itu dulu. Sebagai seorang guru, Ayahnya mengalami banyak sekali kesulitan dalam membiayai anak-anaknya. Seperti lagunya bang Iwan Fals ‘Umar Bakri’
        Rhaissa ingat betul saat SMP ia terpaksa gantian ke sekolah dengan abangnya, sehari masuk sehari tidak lantaran kekurangan uang transport. Saat ia usia 3 tahun, ia memiliki seorang adik perempuan. Namun Rhaissa tetap senang menyanyi. Dan suatu hari seorang guru SD-nya melihat ada kilauan mutiara pada diri Rhaissa, maka guru keseniannya itu pun rela mengajar jam tambahan untuk Rhaissa di luar jam sekolah. Ia pun menjelaskan pada Ibu Rhaissa kalau anaknya yang satu itu memiliki suara emas.
        Dan dari tahun ke tahun Rhaissa tetap sekolah dan terus menyanyi, hingga suatu hari seorang pencari bakat menemukannya. Saat itu Rhaissa duduk di kelas 2 SMP.
        Seorang pria 35-an menemui orangtua Rhaissa bersama guru keseniaannya. Karena ia tahu Rhaissa memiliki suara emas dan itu saja tidak cukup. Ia memiliki sebuah lagu dan ia merasakan kalau Rhaissa cocok untuk menyanyikannya. Maka atas kesepakatan mereka, selepas pulang dari sekolah Rhaissa di minta untuk datang ke studionya. Bukan untuk rekamam tapi untuk belajar, itu berlangsung hampir setiap hari dan nyaris dua jam sehari. Lama-lama Rhaissa merasa bosan dan jenuh. Karena setiap hari belajar, ya menari, belajar vocal dan esoknya lagi ia belajar tentang kepribadian. Di tambah lagi dengan ilmu psikologi, Rhaissa merasa belum memerlukan semua itu. Kalau saja ia tidak merasa senang menyanyi, maka sudah pasti ia tinggalkan semua itu, karena sangat melelahkan. Tetapi Rhaissa di didik oleh Ibunya untuk menjadi seorang yang sabar. Dengan mengatakan bahwa Rhaissa sangat beruntung karena bisa sekolah musik tanpa harus mengeluarkan uang. Rhaissa yang nyaris putus asa bangkit kembali, karena seringnya mendengarkan petuah sang Bunda tersayang.
        Bulan ketiga, pria itu membawa Rhaissa ke dapur rekamam. Itulah saat-saat yang di tunggu oleh Rhaissa, ia akan menjadi seorang penyanyi. Dan akan di kenal oleh banyak orang. Pastinya akan menyenangkan, masuk dapur rekaman saat usia 14 tahun.
        Itu peristiwa 9 tahun yang lalu….,
       
        Saat ini, Rhaissa sudah mempunyai 4 orang adik. Satu perempuan dan tiga laki-laki. Dan 3 keponakan yang lucu-lucu. Ayahnya sudah pensiun, dan Ibunya sudah memiliki perpustakaan sendiri di dalam rumah, karena keluarga mereka senang membaca. Rhaissa juga sudah memiliki beberapa rumah dan deposito yang banyak. Rhaissa bukan dilahirkan di kota Metropolitan tapi di Bengkulu. Sebuah kota kecil yang indah. Namun kini mereka sudah menetap di Ibukota dan tetap sering pulang ke Bengkulu, kota kelahiran mereka.
        Rhaissa tidak pernah kekurangan kasih sayang. Karena mereka sering berkumpul dan di rumah yang mereka tempati sekarang di huni oleh lebih kurang sepuluh orang. Rumah yang selalu ramai dan setiap bepergian Rhaissa ditemani oleh seorang pengawal, dan kakak perempuannya yang merangkap sebagai manager, dan di tambah seorang asisten pribadi Rhaissa. Rhaissa sebenarnya tidak membutuhkan pengawal, karena menurutnya secara tidak langsung itu akan menjadi jarak antara dia dengan para penggemarnya. Namun sang kakak yang sebagai manager berkehendak lain, menurutnya pengawal adalah simbol ketenangan. Seorang penggemar bila sudah histeris maka akal sehat pun terlupakan. Rhaissa telah menjadi seorang penyanyi nomor satu di negri ini, dengan ciri khasnya sendiri. Dia seorang bintang yang tidak gila dengan dunia glamour, yang penuh dengan serba kepalsuan. Namun dia adalah seorang bintang yang sesungguhnya, yang berkarakter dan berwibawa. Sejak masuk dapur rekaman hingga detik ini tidak ada yang berubah pada dirinya, alisnya tidak di cukur apalagi di sulam, kuku jarinya tak ada satu pun yang panjang, semua terlihat normal. Hanya sekali-kali mamakai wig, tidak suka memakai kutek dan Make Up seperlunya. Setiap busana yang ia kenakan asli berkarakter Asia Timur, Melayu. Negara yang ia cintai.
        Dia wanita Asia yang dikagumi jutaan orang, dengan modal suara yang dahsyat, kepribadian yang anggun, sopan, sangat bertata krama dan feminin. Selalu tersenyum kepada semua orang dan cantik.  Cantik alami yang bisa di hitung dengan jari, hanya ada berapa artis di negeri ini yang cantik natural saperti Rhaissa. Apabila ia menyanyi di panggung ia tak ubahnya seperti sang putri. Sapaan pertamanya adalah senyuman. Pembawaannya sangat lembut. Bisa dipastikan seorang pangeran dari negeri seberang pun akan rela meninggalkan tahtanya hanya demi seorang Rhaissa.
        Rhaissa memang sangat terkenal, milik publik dan milik para penggemarnya. Dia seorang kakak, seorang adik dan seorang anak. Namun dia tetaplah seorang gadis remaja, dengan usiannya yang kini menginjak 23 tahun. Di setiap event, lagu-lagu Rhaissa bisa dipastikan mendapat Award, baik di negeri sendiri maupun di negeri tetangga. Keluarga dan orang-orang yang berada di belakangnya sangat bangga dengannya. Tak terkecuali Rhaissa-nya sendiri. Namun di balik semua itu ada yang tidak bisa ia gapai, yaitu cinta seorang kekasih seusianya. Atau maksimal lima tahun di atas usianya. Bukan pria yang kebapak-bapaan, karena ia sudah punya seorang Ayah. Tapi seorang laki-laki yang mencintainya sebagai seorang kekasih. Tetapi apakah ada seorang laki-laki yang seusia Rhaissa yang mempunyai penghasilan melebihi Rhaissa?
        Tentu saja ada!
        Tapi di mana pria itu???
        Setiap pria yang coba mendekatinya selalu berpendapat tidak bisa hidup dengan harta yang di miliki Rhaissa. Mereka selalu mundur. Dan pabila Rhaissa coba untuk serius, dengan berkomitmen untuk berhenti menyanyi, dan ia pun menemukan ketidakseriusan dari pihak sang pria. Ternyata ada juga pria matre di dunia ini. Ia belum menemukan cinta yang benar-benar tulus.
                                                                    *******
        Rhaissa coba menuliskan lirik-lirik lagu, itu terdorong dari puisi-puisi itu, semacam sebuah jawaban dari puisi fansnya yang sering membuatnya penasaran itu. Rhaissa tidak berani membayangkan seperti apa pria itu. Yang pasti dia adalah pengagum sejati. Yang selalu mengikuti perjalanan karirnya.

        Suatu malam, Rhaissa menerima telepon dari seseorang masuk ke ponsel pribadinya. Tanpa nama dan itu tidak biasa.
        “Hallo… selamat malam Angel.” Itu suara seorang pria.
        “Yaa… selamat malam, ini siapa?”
        “Sebelumnya saya mau minta maaf, karena sayalah yang mengirim puisi-puisi itu.” Suaranya sangat sopan dan berwibawa. Rhaissa yang tadinya hendak tidur, kini terpaksa duduk dan bersandar di ranjangnya.
        “Mmm.. apa maksud dari semua ini?” nada suara Rhaissa tenang namun agak bergetar.
        “Tolong jangan menganggap saya meneror Anda, saya tidak bermaksud seperti itu. Saya hanya ingin menyampaikan perasaan saya yang tulus kepada Anda, sangat tulus Angel…. Malam ini saya menelepon karena saya tidak tahan melihat kamu menangis di video klip terakhir kamu. Kamu tahu? saya sangat terpukul melihat air mata kamu itu. Itu sangat menyakitkan saya, apalagi di video itu model prianya terlihat sangat cuek sekali. Angel, kalau kamu membuat klip lagi, jangan sampai menangis ya, karena saya benar-benar tidak tahan melihatnya. Tapi saya tidak mungkin akan berhenti untuk menonton klip-klip kamu, karena hanya itu yang  membuat saya bisa  tenang. Mm.. mimpi indah buat kamu..” katanya. akhirnya si pria menutup telepon tanpa memberi kesempatan Rhaissa bicara. Rhaissa menghela napas panjang.
        Ya Tuhan, dari mana dia mendapatkan nomor ponselku? Pasti dia bukan pria sembarangan. Rhaissa turun dari tempat tidurnya, untuk menyetel kembali DVD terbarunya dengan model terbaik saat ini. Isi cerita dalam lirik lagu itu menceritakan seorang wanita yang kehilangan kekasihnya. Rhaissa memang selalu menghayati setiap lagu-lagunya. Dan bukan saja tuntutan isi lagu, karena kenyataannya lirik di lagu itu benar-benar sedih. Rhaissa terus menatap klip itu hingga tanpa ia sadari air matanya ikut menetes lagi. Entah kenapa tiba-tiba ia merasa pria yang meneleponnya tadi ikut menonton bersamanya. Selanjutnya ia tidak bisa memejamkan mata nyaris semalaman. Setiap kata yang diucapkan pria itu terus terngiang di telinganya. Tanpa bisa ia kontrol, pikirannya terus ke pria itu. Suaranya benar-benar enak di dengar, dan ia mengambil lagi salah satu puisi yang menumpuk di atas meja kecilnya dan membacanya berulang-ulang.
       
       Paginya ia memceritakan kejadian itu kepada kakaknya, Dina yang menjadi managernya.
Sang kakak yang sudah bertunangan itu sangat memahami dan mengerti adiknya.
        “Itu hanya cinta buta seorang penggemar sayang, kak Dina harap kamu jangan sampai terbawa arus ya.”
        “Kak Dina, tapi ini lain.” Protes Rhaissa manja namun serius. ”Mana ada sih seorang penggemar yang mengamati aku menangis di dalam video klip? Dan puisi-puisi itu tidak pernah berubah, kak.”
        “Sayang, asal kamu tahu ya, dia itu bukan laki-laki gentleman. Sebaiknya kamu mempersiapkan diri kamu untuk acara live di televisi nanti malam.
        Rhaissa menghela napas pendek. ”Baiklah, hh… bagaimana kalau kita ke mol dulu?”
        Kak Dina tersenyum, ia menatap adiknya dan berkata sebagai manager. “Hari ini tidak ada jadwal belanja karena kamu harus istirahat yang cukup.”
        “Tapi aku masih bisa istirahat setelah pulang dari mol kan, kak?” pinta Rhaissa seakan sangat mamahami kondisinya. Wajah itu sangat memohon membuat kak Dina tidak tega. Akhirnya ia mengangguk setelah menarik napas panjang.
        “Oke, dengan catatan harus ingat tanggungjawab.”
        Rhaissa langsung memeluk kak Dina. ”Terima kasih kak.” Rhaissa langsung bergegas menggantikan bajunya dengan sangat bergairah.
        Wanita berambut bob itu kini sedang mengamati adiknya yang sudah mengenakan celana jins, kaus lengan panjang berwarna krem dan memakai topi dengan tetap membiarkan rambutnya tergerai indah.
        “Jangan lupa kaca mata kamu.” Ingat kak Dina.
        Rhaissa memang hobi mengoleksi kaca mata tapi bukan berwarna hitam. Paling gelap berwarna coklat tua. Ia tidak pernah terpengaruh dengan dunia Barat yang terus melaju pesat, yang nota bene disukai oleh banyak kalangan remaja Timur. Setiap tahun dunia mode memang terus berkembang, namun bukan berarti ia harus mengikutinya. Karena belum tentu cocok untuk karakter dirinya sendiri. Sebab ia yakin, yang ada di Timur juga akan terus berkembang. Jika kita berlomba-lomba untuk mengikuti trend Barat, maka siapa yang akan menciptakan trend di tempat kita sendiri. Dan budaya Timur adalah menempatkan seorang wanita sebagai sosok yang agung bak hiasan dunia.
        Mungkin banyak orang berpendapat, bahwa Rhaissa bukanlah seorang Artis modern. Namun ia adalah seorang penyanyi bukan super model. Bagaimana pun ia punya prinsip yang kuat berkat didikan orang tuanya. Dengan selalu tampil anggun ia pun bisa memikat jutaan orang. Orang menyukainya dan memujinya. Itu terbukti dengan hasil penjualan CD dan DVD-nya yang selalu menempati hasil teratas. Ia mendapat double platinum dan hasil dari RBT-nya mencapai milyaran rupiah. Undangan untuk tampil di luar negeri pun tak pernah sepi. Rhaissa adalah Rhaissa yang hidup di dunia artisnya sendiri. Tidak perlu mengikuti bintang top sebelumnya atau mengekor karakter orang.

        Hari ini Rhaissa pergi hanya ditemani kakaknya dan seorang pengawal. Tadinya ia ingin pergi bersama kakaknya dan menyetir sendiri, pasti menyenangkan. Karena ia sudah lama tidak menyetir sendiri. Namun kak Dina tidak mengizinkannya. Rhaissa memasuki lift mall. Setiap orang yang kenal dan berani, pasti mendekatinya dan minta foto bareng serta tanda tangan. Dan yang tidak berani hanya kagum memandang dari kejauhan. Tapi tidak sedikit hanya sekedar menegurnya dan menyapa manis. Namun ada pula yang tidak yakin kalau itu adalah Rhaissa seorang artis berkelas yang jalan-jalan di tempat keramaian. Rhaissa mempunyai tahi lalat kecil di atas bibir sebelah kanannya. Itu melengkapi kesempurnaan senyum tulusnya untuk semua orang di tambah lagi dengan gigi yang tersusun indah dan rapih. Tegur sapanya yang lembut membuat orang ingin terus mendengar suaranya. Ia simbol wanita sejati. Mungkin seumur hidupnya ia tidak pernah marah.
        Saat Rhaissa, kak Dina dan pengawalnya ingin masuk ke sebuah kafe untuk makan siang. Seorang pemuda nyaris bertabrakan dengan Rhaissa. Sosok pria berdasi yang terlihat seperti orang sibuk. Lengan pria itu mengenai bahu Rhaissa. Dan pria itu menoleh.
        “Oo… maaf.” Katanya pendek. Detik berikutnya, keduanya bertatapan begitu dekat. Pria itu terus menatap mata Rhaissa yang ada di balik kaca mata coklatnya. Ia pasti tidak kenal dengan Rhaissa. Pria maskulin itu tersenyum tipis dan senyum itu sempat membuat jantung Rhaissa lumer. Waktu seakan terhenti untuk melihat senyum itu. Rhaissa membuka kaca matanya dan laki-laki tolol itu masih tidak mengenalinya. Ia tersenyum lagi dan mengucapkan kata-kata maaf untuk kedua kalinya. ”Maafkan saya.”
        “Sama-sama.” Balas Rhaissa. Mendengar suara Rhaissa memaksa pria itu menarik napas dalam-dalam.
        “Ais.. kamu nggak apa-apa?” Dina sudah memegang tangan adiknya. Itu panggilan sayang.
        “Nggak, nggak papa kok, Kak.” Rhaissa kembali memasang kaca matanya. Pria itu telah berlalu dan duduk bersama seorang temannya yang berdasi juga, saat Rhaissa menoleh ia sudah terlihat asyik dengan rekannya itu. Dina mengambil tempat duduk tiga meja dari pria itu, agak jauh namun Rhaissa masih bisa melirik ke sana. Tanpa di ketahui oleh Rhaissa, pria itu sekali-kali mencuri pandang ke Rhaissa, dan menatapnya. Meski terlihat cuek namun penuh rasa keingintahuan. Ada kilauan dan rasa penasaran di mata itu.
        “Ais.., apa kamu mengenali pria tadi?” Tanya kak Dina tiba-tiba di saat mereka menikmati
makan siang.
        “Entahlah…” kata Rhaissa datar. Dina menatap adiknya yang menjawab pertanyaan tidak seperti biasanya. Dan terdengar aneh di telinganya. Dina tertawa kecil.
        “Yang pasti dia bukan seorang pengagum, dia sama sekali tidak mengenali kamu.”
        “Mungkin. Ia pasti mengagumi seorang Madonna.” Kata Rhaissa sembari tertawa halus. ”Tapi… aku merasa pernah mendengar suaranya. Mungkin aku pernah mendengar suara itu sebelumnya, namun entah di mana dan kapan?” kening Rhaissa bertaut seakan coba mengingatnya.
        “Sudahlah, habiskan sisa makananmu dan kita akan segera kembali. Setidaknya kamu harus istirahat dua jam penuh, oke.” Kata kak Dina semacam printah. Rhaissa tersenyum dan saat ia menoleh ke arah pria tadi, kursi itu telah di isi oleh orang lain. Wow… cepat sekali mereka menghilang. Membuat Rhaissa tambah penasaran.
        Rhaissa hanya membawa pulang sepasang sepatu buatan Indonesia. Ia tidak pernah gengsi untuk memakai produk dalam negeri.
                                                                 *******

        Rhaissa mengisi acara siaran langsung di televisi swasta, selain menyanyi ia juga akan menerima tanya jawab langsung dari penonton yang ada di rumah. Itu acara interaktif yang sering di adakan televisi tersebut, dan malam itu akan terasa istimewa karena bintang tamunya adalah Rhaissa.
        Rhaissa membawakan lagu-lagu anyarnya dan akan diiringi oleh tiga penari latar. Lagu kedua tanpa penari dan itu membuat para penonton bisa fokus melihat penampilannya di atas panggung. Di saat anak muda tergila-gila dengan Justin Biber, Ayu Ting Ting dan anak band SMASH juga boy dan girls band Korea maka Rhaisaa punya penggemar dari berbagai kalangan… Dan setelah jeda iklan,
        Baru diberi kesempatan telepon masuk dengan di pandu oleh seorang host. Rhaissa duduk ditemani host pria yang sudah sangat dikenali di dunia pertelevisian. Telepon pertama pun masuk.
        “Halo…?” host itu yang memjawab.
        “Halo, selamat malam.” Peneleponnya seorang wanita.
        “Dengan siapa dan di mana?” masih host.
        “Dengan Cut Lara dari Aceh.”
        “O, jauh sekali. Apa yang mau di tanyakan silahkan langsung kepada Rhaissa-nya.” Dan detik itu wajah Rhaissa langsung di zoom.
        “Ya, terima kasih. Selamat malam Rhaissa.”
        “Ya, selamat malam juga Lara.” Senyum Rhaissa sudah mengembang. Ia menunggu.
        “Saya hanya ingin menanyakan, apakah sebelum menjadi seorang Rhaissa seperti sekarang ini, pernahkah merasakan perjuangan hidup yang begitu pahit? Itu saja, terima kasih.”
        “Bagaimana?” presenter muda itu menoleh pada Rhaissa. Rhaissa tersenyum dan menghela napas. Seandainya Cut Lara mengikuti perjalanan karirnya tentu ia tidak perlu bertanya seperti itu. Seharusnya ia bertanya, ’Siapa pacar Rhaissa dan kapan akan menikah?’ namun bagaimana pun juga Rhaissa harus menjawab pertanyaan itu.
        “Terima kasih Lara, ini mungkin bukan sebuah jawaban tapi sebuah kisah yang sangat luar biasa, mungkin kamu belum tahu kalau saya mempunyai sembilan orang saudara. Saya anak kelima dari anak seorang guru Sekolah Dasar, dan seorang Ibu yang sabar, penyayang dan pintar, seorang Ibu rumah tangga biasa, tapi saat itu saya merasa bukan kehidupan yang pahit, namun kehidupan yang penuh cinta dan kasih sayang. Kami bisa melewatinya dan kami tidak akan pernah melupakan saat-saat seperti itu.” Ujar Rhaissa dengan penuh kewibawaan dan seolah ia baru saja mengalami masa kecilnya.
        “Oke… mudah-mudahan Cut Lara puas dengan penuturan Rhaissa barusan, sseperti yang kita tahu bahwa Rhaissa sangat mengagumi keluarganya. Kita menerima penelepon kedua, sebelum break,  silahkan….”
        “Halo….” Penelepon langsung masuk. Kali ini seorang pria.
        “Ya, silahkan.” Kata hostnya.
        “Saya Agoy di Jakarta, sebenarnya saya tidak punya satu pertanyaan pun untuk Rhaissa. Saya hanya ingin memberi sedikit kekaguman atas… mm… Tuhan maha besar dan perancang busananya yang brillian, dan malam ini Rhaissa terlihat sangat cantik sekali….” Kata-kata itu semacam pujian seorang juri di ajang lomba. Rhaissa hanya tersenyum dewasa.
        “Terima kasih.” Balasnya singkat. Ia tidak biasa menerima pujian dengan besar kepala. Itu ajaran di dalam keluarganya.
        “Wow….” Host itu melirik Rhaissa. ”Anda memang benar Agoy.” Ujarnya seakan setuju.
        Semua orang juga sudah tahu kalau malam itu penampilan Rhaissa seperti putri dari negeri dongeng. Ia mengenakan busana dari perancang ternama dengan gaun berwarna hijau muda. Seorang perancang akan senang jika karyanya di kenakan oleh Rhaissa. Karena itu merupakan kepuasan tersendiri bagi mereka begitu pun Rhaissa. Ada juga yang beranggapa kalau Rhaissa tak ubahnya seperti maneken di sebuah mega mall. Apabila ia mengenakan sesuatu maka konsumen langsung tertarik untuk membelinya. Bukankah itu secara tidak langsung menunjukkan kalau Rhaissa juga bisa di bilang sebagai super model? Sepertinya tidak ada yang bisa membantah itu.
        Dari semua telepon yang masuk malam itu, hanya pernyataan Agoy yang berkesan untuk Rhaissa. Bukan lantaran pujiannya, namun ketulusan di dalam kata-kata itu. Menjelang tidur, hampir pukul dua dini hari. Rhaissa yang lelah ingin istirahat dan seharusnya ia tidak mengaktifkan ponselnya. Karena segala sesuatu bisa melalui kak Dina dan asistennya. Sehingga ia tidak harus mengangkat telepon seperti saat ini. Dengan tenaga tersisa ia menempelkan ponsel ke telinganya.
        “Hallooo…”
        “Hai, maaf ya, saya mengganggu sebentar, sebentaaaar saja.” Dan suara itu sudah sangat di kenali oleh Rhaissa. Namun kali ini ia tidak mengangat kepalanya yang sudah terasa berat. ”Saya Agoy yang tadi siang bertemu kamu di kafe, dan setelah kejadian itu saya melihat kamu di televisi. Semoga saya tidak salah, bahwa yang saya jumpai siang itu adalah kamu yang semalam. Oke, itu saja, terima kasih, mimpi indah.” Belum sempat di jawab, suara di seberang sudah menghilang. Rhaissa melihat nomor Agoy di layar ponselnya, terbersit di benaknya untuk menelepon balik namun urung. Kini ia hanya bisa mengingat pertemuan siang itu. Lagi-lagi ada orang asing yang tahu nomor pribadinya. Ia pun memutuskan untuk mematikan ponselnya.
         Dan sejak saat itu kak Dina tidak mengizinkannya memegang HP. Semua telepon yang masuk harus melalui dia dan twitter pun kak Dina yang membalasnya. Dan itu membuat Agoy kesulitan untuk menghubunginya Rhaissa dan setiap ia coba menghubungi manager Rhaissa selalu menanyakan ada perlu apa dan siapa, apa sudah punya janji, dan kalau belum harus bikin janji dulu. Dan saat Agoy menyebut nama panjangnya barulah si manager mengetahui siapa Agoy itu sesungguhnya.  Kak Dina tahu betul siapa Agoy, dia seorang pemuda kelahiran Jakarta, besar dan sekolah di negeri paman Sam. Orangtuanya punya bisnis perhotelan di negeri itu. Agoy kembali ke tanah air untuk membuka bisnis yang sama. Dia anak muda yang mewarisi jiwa bisnis dari Ayahnya. Maka selesai kuliah empat tahun, di tambah dengan dua tahun pengalaman kerja, dia pun memberanikan diri untuk membuka usaha sendiri. Dan di saat usianya mendekati 25 tahun ia sudah bisa menempati apartemen mewah, dan memiliki segala yang diinginkan anak muda zaman sekarang. Tinggal sendiri di apartemennya sebab kedua orangtuanya masih menetap di Amerika.
                                                                   *******
       
        Setelah menyelesaikan syuting klip kedua untuk lagu yang sama di kawasan Puncak. Dan di perjalanan pulang ke Jakarta, Ririn si manager baru, bertanya pada Rhaissa.
        “Rhaissa, mau dan bisa gak ketemu seseorang?”
        Rhaissa menoleh ke arah managernya yang duduk tepat di sebelahnya. Wanita muda itu tersenyum.
        “Kamu ini aneh, kan kamu yang mengatur semua jadwalku. Jadi kenapa bertanya seperti itu?” jawab Rhaissa pelan.
        “Tapi bertemu dengan orang yang satu ini tidak ada sangkut pautnya dengan urusan pekerjaan. Bukan juga untuk acara jumpa fans, tapi dia mengajak kamu nge-date.”
        “Whats..??” Rhaissa tertawa. Kak Dina pun yang duduk di sebelahnya ikut tertawa. Ia kini bukan sebagai manager Rhaissa tapi sebagai orang yang siap menemi kemanapun Rhaissa pergi.
        “Aku serius Rhaissa, nama pria itu Agoy.” Ririn menatap Rhaissa. Rhaissa pun menatap Ririn tak percaya.
        “Agoy…?” ulangnya pelan. ”Agoy?” nama itu terucap lagi.
        “Hei hei…. Ada apa dengan kamu, Rhaissa?” Dina melirik adiknya yang terlihat seperti orang linglung. ”Agoy itu yang ikut berpartisipasi dalam acara di televisi malam itu kan, Ais?”
        “Mungkin, tapi tidak ada yang bisa menebak kan, berapa pria yang bernama Agoy di negeri ini?”
        “Tapi dia bilang kamu kenal dia. Katanya ia pernah bertemu dengan kamu di mega mall waktu makan siang bersama kak Dina.” Tambah Ririn.
        “Ya Tuhan, pria itu?”
        “Dia bukan tipe pria pecundang, kan?” kak Dina seperti bertanya pada Rhaissa.
        “Semoga.” Jawab Rhaissa seakan berharap.
        Dina menatap adiknya. ”Apa kamu sedang jatuh cinta?”
        Rhaissa seakan tersadar dengan jawabannya barusan, ia tersenyum.
        “Jatuh cinta? O o… bagaimana mungkin? Kalian kan lebih mengenali aku melebihi aku sendiri.”       
       “Oke, sekarang gimana? Apa mau terima gak telepon dari dia?” tegas Ririn.
        “Menurut kalian, apa harus?”
        “Keputusannya ada di tangan kamu, Ais.” Kata Dina yang sudah tahu siapa si Agoy itu.
        “Baiklah, suruh dia telepon aku nanti malam.” Kata Rhaissa dengan pasti. Kak Dina mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya kemudian menyerahkan pada Rhaissa. Rhaissa menatap kakaknya sembari tersenyum. ”Nanti malam kok, kak.”
        “Tidak ada salahnya kan, kakak memberikan ponsel ini sekarang?” kak Dina melirik nakal ke Rhaissa. Ririn tertawa dan akhirnya ketiganya ikut tertawa. Beberapa menit setelah menerima ponsel, Rhaissa pun tertidur di mobil. Sembari mendengarkan lagu  Celine Dion. Ia mennyukai diva asal Canada itu.
        “Dia kecapean sekali.” Ujar Ririn sembari menatap Rhaissa sejenak. Dina pun mengiyakannya. Mereka pun akhirnya ikut menyandar di jok mobil yang empuk itu. Setengah jam lagi mereka akan tiba di rumah. Minggu depan mereka akan ke Singapura. Rhaissa di undang untuk menghadiri acara Award di negeri tetangga itu. Kebetulan lagu Rhaissa masuk nominasi sebagai favorit famele Artist. Dan perancang busana handal negeri ini telah menyiapkan gaun untuk Rhaissa, yang menyukai warna hijau muda.

        Malamnya Rhaissa meneruskan menulis lirik-lirik lagu, dia jarang menulis, ide menulis itu pun ia dapat berkat sering membaca puisi-puisi yang dikirim secara misterius itu. Dan pengirimnya menyebut dia dengan panggilan ‘Angel’. Pria itu tidak pernah meneleponnya lagi.   Tapi minggu depan, apakah puisinya akan muncul lagi? Ataukah Rhaissa tidak pernah berharap lagi. Pria aneh, yang tidak pernah mencantumkan alamatnya. Itu bisa di sebut semacam surat kaleng. Di stempel kantor pos tercantum nama kantor pos penerima dan Rhaissa pun meminta asistennya menanyakan. Dari kantor pos mana surat itu berasal. Rhaissa yakin, pegawai pos sana pasti mengenali pengirim yang nyaris 80 kali menemui kantor pos itu untuk mengirim puisi-puisi itu kepadanya. Dan kabar pun di dapat. Pegawai pos mengatakan kalau yang mengirim surat tanpa nama itu hanya seorang wanita biasa. Yang usianya sekitar 30-an. Rhaissa menjadi tambah penasaran dan saat menelepon dia menggunakan private number. Siapa dia sebenarnya? Dan kenapa dia tidak mengirim puisi-puisi itu lewat ponsel saja….???

        Rhaissa sudah menggatikan baju tidur, siap untuk tidur dan ia senang tidur sendiri tanpa ditemani siapapun. Itu membuatnya sangat nyaman. Karena nyaris 24 jam ia selalu berkumpul bersama keluarga dan bertemu dengan orang-orang. Maka di saat-saat seperti ini ia merasa bernapas untuk dirinya sendiri, hidup bersama khayalannya dan terkadang menikmati asa itu mengasyikkan bagi Rhaissa. Asa itu mengikuti irama hati, namun jika asa menguasai hati sebaiknya berhati-hati. Rhaissa menyetel lagu lembut menjelang tidurnya, kebiasaan itu tidak pernah hilang. Selain senang menonton akting Richard Gere dan Rano Karno ia juga menyukai aksi Lara Croff serta aksi kocak Olga Saputra. Ponselnya berdering di saat ia sudah lupa. Agoy benar-benar menghubunginya.
        “Halo… belum tidur, kan?” suara lembut itu menyusup ke dalam telinga Rhaissa. Dan Rhaissa langsung bisa mengingat bagaimana pria itu menatapnya di depan lift kafe mega Mal itu. Pria plamboyan yang cool, tapi siapa Agoy sebenarnya? Pria itu tidak mengenalinya sama sekali.
        “Mana ada orang tidur sambil memegang ponsel dan dengan begitu jelas bisa mendengar suara anda.” Nadanya berkata pelan teratur dan tidak bermaksud menyinggung. Terdengar tawa kecil dari seberang. Lalu diam, sepertinya Agoy bingung mau ngomong apa. Rhaissa menunggunya kemudian terdengar helaan napas.
        “Mm.. apa aku besok boleh datang ke rumah kamu?”
       Rhaissa diam sejenak. Agoy menunggunya dengan cemas jangan sampai gadis itu menjawab tidak bisa. Habis sudah harapannya.
        “Boleh tahu, buat apa?” Tanya Rhaissa.
        “Ya bertemu dengan kamu, memangnya untuk apalagi.”
        “O, terus kalau sudah ketemu?”
        “Ya, apa ya…? Maunya sih ngajak kamu pergi. Tapi kayaknya gak sopan ya?”
        “Memang iya.” Kata Rhaissa singkat dengan nada setengah bercanda.
        “Tu, benar kan? O iya, terima kasih banyak ya karena sudah mengizinkan aku menelpon kamu. Kamu tahu gak? betapa susahnya aku mencari nomor kamu ini? Aku menghubungi internet dan menelepon beberapa kantor tabloid dan majalah, hanya karena ingin menemukan nomor kamu. Mereka bersikeras tidak ingin memberi tahu dengan alasan melanggar etika.”
        “Dan akhirnya mereka melanggar etika itu, kan?”
        “Karena mereka tidak mau ada seorang pria mengakhiri hidupnya di kantor mereka.”
        “Jangan berlebihan, jadi kamu mendatangi kantor mereka?”
        “Tentu saja, di sini akulah yang melanggar etika itu, aku minta maaf sama kamu. Setelah menghubungi kamu sekali seterusnya aku tidak bisa menghubungi kamu lagi, karena ponsel kamu selalu berada di tangan manager kamu. Dan dia selalu meng-introgasi aku.” Kata Agoy dengan jujur. Rhaissa tertawa pelan. ”Bagaimana, boleh ya aku ke rumah kamu?”
        “Hei, rumah saya itu terbuka untuk siapa saja.”
        “Ya, itu pasti tapi aku tidak ingin sekedar datang ke rumah kamu, aku ingin bertemu dengan kamu.”
        “O, kalau itu aku tidak bisa janji, apa aku ada di rumah atau tidak.”
        “Iyeess!!!” Agoy berteriak kegirangan. Membuat Rhaissa menjauhi ponselnya dari telinga. Aneh. Pikirnya.

        Agoy memang pria beruntung karena Rhaissa memberi kesempatan padanya untuk kenal lebih dekat. Itu kesempatan emas apalagi sampai bisa jalan berdua. Rhaissa bisa pergi juga karena kak Dina yang memang tahu siapa aslinya Agoy.
        Sejak saat itu, pria puitis itu tidak pernah lagi mengirimkan puisinya untuk Rhaissa. Biasanya dia bisa mengirim dua sampai tiga lembar dalam dua minggu. Rhaissa merasa kehilangan, merasa ada sesuatu yang aneh. Seperti ada kurang pada dirinya. Karena dalam setahun ini ia selalu mendapatkan lembaran puisi itu dalam setiap minggunya. Dan yang lebih terasa karena ada perhatian dalam puisi itu dan kini perhatian itu tidak muncul lagi. Angel itu kini merasa kesepiaan.
                                                                    *******
        Angin laut berhembus lembut, membelai wajah Rhaissa dan mengibaskan rambutnya. Ombak laut berlomba menghempaskan diri ke pantai, hingga pecah dan memancarkan keindahan di atas karang yang menjulang tinggi. Rhaissa menghela napas pelan dan sekali-kali menghirup minumannya. Agoy yang duduk bersandar di sebelahnya merasa gugup, tak biasanya ia seperti itu jika berdekatan dengan seorang wanita. Seorang pria akan merasa sangat bodoh jika tiba-tiba gugup berhadapan dengan seorang wanita apalagi itu wanita idamannya.
        Rhaissa mengenakan baju santai dengan lengan sebatas siku, dengan kerah pendek. Ia pun mengenakan kaca mata coklat terang dan celana jins lembut. Di sampingnya Agoy sedang berjuang keras untuk berani mengatakan sesuatu yang teramat penting. Ia tidak peduli apakah Rhaissa mencintainya atau tidak, dan ia merasa kalau Rhaissa telah memberinya lampu hijau. Itu baginya sudah merupakan jalan terang bahkan teramat terang.
        “Rhaissa…” menyebut nama itu saja rasanya susah sekali. Rhaissa menoleh dan membuka kaca matanya. Ia tersenyum tipis dan masih bersandar. Cahaya matahari yang mulai keemasan membias di wajahnya. Dan sebelum wajah itu kembali menghadap ke laut, Agoy meneruskan ucapannya. ”Aku ingin mengatakan sesuatu sama kamu, aku menyukai kamu. Aku jatuh cinta sama kamu dan aku merasa telah mencintai kamu.” Kata Agoy. Ia tak lagi bersandar. Kini ia menatap serius ke wajah Rhaissa. Rhaissa terdiam. Ia meletakkan kaca matanya di atas meja marmer itu. Sementara Agoy menanti reaksi Rhaissa selanjutnya. Namun reaksi yang muncul hanya sekilas senyum yang tidak bisa di mengerti maknanya, bahkan tatapannya untuk Agoy sulit di tebak. ”Aku.. terlalu to the point ya? Maaf, jika kamu tidak menyukai keterus-teranganku. Kamu mungkin beranggapan, siapa Agoy? Seorang pria yang baru ketemu dua kali, pertama tanpa sengaja dan ini kedua, dan berani mengatakan kata-kata yang tidak bisa di anggap enteng itu. Mungkin tidak pantas untuk kamu, tapi aku tidak mau menebak perasaan kamu.” Kata-kata itu mulai terdengar lancar dan sangat teratur meski agak memohon. Tapi pria itu sudah mulai terlihat aslinya yang dewasa dan tidak kenak-kanakan lagi seperti tadi yang takut di tolak oleh gadis impiannya.
        “Agoy.. apakah kamu termasuk salah satu orang yang memahami apa itu arti dari cinta?” tutur Rhaissa seolah minta dipahami. Ia menatap Agoy. ”Karena terus terang aku sendiri tidak memahami makna cinta itu yang sebenarnya. Yang aku tahu, seseorang di beri sebuah hati untuk merasakan berbagai rasa. Di beri satu pikiran untuk menampung berbagai masalah yang masuk ke otak kita, terkadang kita merasa tidak begitu mampu untuk memikirkan semuanya. Tapi sebagai manusia kita pasti memiliki perasaan pada seseorang. Tidak peduli dia siapa, berasal dari mana, dan apakah cinta itu tulus atau tidak, semuanya tergantung dari pribadi orangnya. Kamu tahu? orang bilang cinta itu sangat aneh. Tapi bagaimana menurut kamu sendiri?” penuturan panjang dari Rhaissa memaksa Agoy berpikir lalu tersenyum lembut dan coba mencerna maksud dari uraian itu.
        “Terus terang aku tidak begitu mengerti maksud dari kata-kata kamu. Dan satu hal yang aku sangat yakin, bahwa aku sangat menyukai kamu.” Katanya dengan nada begitu pasti. Ia merasa ingin sekali menggenggam jemari Rhaissa dan itu tidak gampang! Rhaissa bukan gadis biasa, kecerobohannya akan menimbulkan petaka dan ia tidak ingin itu terjadi. Rhaisa masih berpegang teguh pada caranya sendiri dan norma-norma serta adat-istiadatnya, ia bukan gadis yang terlalu gampang di sentuh, meski itu untuk orang yang ia sukai sekali pun. Remaja sekarang mungkin akan menganggapnya kuno, tapi tidak apalah, itu hak mereka.
        “Mmm.. bagaimana kalau kita pulang?”
        “Baiklah, tapi sebelum kita pulang. Boleh aku tahu bagaimana perasaan kamu sama aku?” kata Agoy tidak ingin penasaran.
        “Semoga seperti apa yang kamu inginkan. Tapi jangan pernah berharap dengan sesuatu yang mungkin tidak aku bisa beri.”
        “Lagi-lagi aku tidak bisa memahami kata-kata kamu….” Namun ia tetap tersenyum.
       
        Rhaissa tidak mau memancing pikiran yang coba meresahkan kalbunya. Ia ingin semua berjalan seperti biasanya. Karena ia yakin jika cinta sudah datang maka ia akan merasakannya sendiri.          
        Setelah duduk berdua bersama Agoy, keluarlah foto-foto mereka di berbagai jejaring sosial dan dunia maya, dan semuanya mempertanyaan hubungan mereka, juga siapa Agoy itu?

        Sehari sebelum berangkat ke Singapura untuk menghadiri acara MTV Award, ia menerima lagi surat ke 78 setelah satu bulan ini menghilang. Dan Rhaissa merasa deg-degan seperti orang yang menerima surat cinta untuk pertama kalinya. Padahal itu isinya pastilah sama, yaitu puisi-puisi yang sebenarnya sudah bisa ia hafal di luar kepala. Mungkin karena sudah sebulan menghilang membuat Rhaissa merasa canggung, dan jujur saja selama sebulan ini ia merasa takut kalau pria itu sudah melupakannya. Atau mungkin pria itu merasa bahwa puisi itu tidak penting. Ia hanya iseng mengirimkannya lalu melupakannya. Sementara Rhaissa sendiri sudah berulang-ulang membacanya, memahaminya dan menikmati kata demi kata dalam setiap baitnya bahkan sering melamunkan sang pengirimnya. Dan kali ini Rhaissa tidak mengenali huruf dalam tulisan itu. Karena sepertinya bukan sebuah puisi. Penasaran, ia pun membacanya….

        ‘Angel....
        Ada puluhan kata di hati ini tersirat untuk kamu, namun tidak satu pun bisa terungkap. Kadang hayalan terbang ke puncak gunung, dan dirimu ibarat awan yang menerpa wajahku. Ingin sekali aku merengkuhmu, memiliki cintamu, walau hanya setetes embun pagi. Semakin hari hati ini semakin gelisah. Karena wajahmu seperti terus menari di mataku. Engkau tidak bisa di
umpamakan dengan apapun di dunia ini.
         Ada sejuta rasa sayang tersimpan di matamu, ada kerinduaan tersimpan di sana. Andai kau  mengerti, maka aku tidak akan pernah segelisah ini. Bila aku memiliki cinta, nyawa dan hati,
        Maka semua itu adalah kepunyaanmu. Pabila kamu mengerti betapa aku tidak mengingingkan rasa gundah ini, namun rasa itu terus saja menguasai diri ini. Seakan mengajak cinta menyapa, mengetuk pintu hatimu dan ingin membawamu ke alam nyata..
                                                                                                                Angel mimpi indah ya.’

Rhaissa menarik napas berat.
        ‘Ya Tuhan, isi surat ini menggambarkan kalau aku semakin jauh darinya.’ Kini Rhaissa menghela napas panjang. ‘Rhaissa!! Hentikan untuk membaca semua kegilaan ini. Lupakan semua kertas-kertas itu. Karena dia akan menyeret kamu ke dalam kata-kata yang ia sendiri tidak mengerti artinya.’ Sudut lain di hatinya mulai meronta. Ia meletakkan surat itu di atas meja di saat terdengar suara ketukan pintu. Dina muncul untuk sekedar menanyakan kesiapannya berangkat besok. Rhaissa tersenyum pada kakaknya.
        “Bagaimana, tidak ada yang diperlukan lagi, kan?” lalu matanya melihat selembar kertas di atas meja hias Rhaissa. Ia meraihnya. ”Apa ini? Surat fans, apa dia minta di balas?” ia menatap adiknya. Rhaissa menggeleng dan lagi-lagi ia menghela napas.
        “Tujuh puluh delapan.” Ia duduk di pinggir ranjangnya. Dina menghampirinya dengan kertas masih di tangan. Di zaman serba canggih ini masih saja ada orang menulis surat.
        “Apa ini mengganggu kamu?”
        “Mungkin, sedikit.” Suaranya mulai serak.
        “Mm.. gimana kalau ini kamu anggap saja seperti surat-surat para pnggemar kamu yang lain? Dan kalau dia serius, ia pasti muncul di twitter kamu.” Kata Dina pelan dan Rhaissa coba memahami kata-kata kakaknya. ”Oke, jika kamu mau kita akan mencari wanita yang selalu mengeposkan surat-surat pria ini untuk kamu. Gimana?”
        Rhaissa jadi tertawa mendengar keseriusan kakaknya. ”Nggak perlu kak, mungkin akunya aja yang agak berlebihan.” Ia bangkit. ”Oke, aku gak apa-apa, percaya, kan?”
        “Ya, sedikit.” Canda Dina. Sebenarnya ia tahu kalau adiknya itu agak sedikit terganggu dengan setiap kemunculan surat itu. Ia akan memeriksa lagi setiap surat yang akan sampai ke tangan Rhaissa. Tapi ia juga tidak ingin menyembunyikan apa pun dari adiknya itu. Akhirnya mereka berdua tertawa. “Mau kakak temenin?”
        Rhaissa tersenyum. ”Makasih kak, tapi aku butuh HP.”
        “Tentu, kakak akan ambilkan, dan mulai malam ini ia menjadi milik kamu.” Ia menciptakan senyum tulusnya. Rhaissa menyimak kakaknya. Wanita itu begitu menyayanginya.
        “Kak…?” ia kembali duduk di sebelah kakaknya. ”Selama ini, kakak selalu mengerti setiap keluhan dan kebutuhanku, apa kakak tidak pernah merasa kalau aku ini terlalu berlebihan?”
        “Berlebihan dalam hal apa?” ia mengurungkan niatnya untuk keluar.
        “Entahlah, terkadang aku merasa sering tidak sopan dengan kakak, kakak tahu kan, kalau aku sangat menghargai kakak? Sering aku berpikir, apa yang bisa aku lakukan seandainya kakak tidak ada di sampingku. Aku pasti seperti anak kecil yang tidak tahu harus melangkah ke mana.” Matanya terlihat sendu. Dina memegang bahunya.
        “Buat kakak, kamu itu tetap anak kecil yang masih berumur empat tahun.” Ia memahami ke mana arah kata-kata adiknya. ”Kakak masih ingat dengan jelas saat kamu kakak mandikan setiap sore dan mengeringkan badan kamu dengan handuk, dan kamu terus berlari dan melompat-lompat di tempat tidur, membasahi tempat tidur kita. Hmmm… sebenarnya apa yang sedang berkecamuk di pikiran kamu? Apa karena dua bulan lagi kakak mau menikah dan kamu pikir kakak tidak peduli lagi sama kamu? Atau jangan-jangan kamu berpikir kalau selama ini yang kakak lakukan semuanya karena terpaksa? Ais… kamu sendiri tahu kan, kalau kakak itu sangat menyayangi kamu? Terkadang kakak berpikir, apakah tidak terlalu cepat untuk menikah? Kedua kakak kita sudah menikah dan mungkin dengan pernikahan kakak ini, tahun depan Arie bisa menyusul. Kamu tahu kan, kalau kakak kamu yang satu itu sering menggoda kakak. ’Kak Dina kapan dong? Ntar kalau Arie duluan gimana?’ tapi sebenarnya itu bukan alasan kakak, pertunangan kakak juga sudah hampir setahun, tidak enak juga kalau kelamaan. Kamu jangan pernah punya perasaan tidak enak sama kakak, kami selama ini sangat bangga sama kamu. Dan keluarga kita sangat menyayangi kamu, mungkin cara penyampaiannya berbeda tapi pada dasarnya cinta kita untuk kamu sama. Mengerti, kan?” ia mengamati adiknya dan Rhaissa memeluk kak Dina untuk beberapa saat. ”Istirahatlah, kakak ambilkan ponselmu.” Katanya setelah mengusap punggung Rhaissa. Dina keluar dari kamar Rhaissa menuju kamarnya sendiri. Karena setiap orang di rumah itu mempunyai kamar masing-masing dan jika ada yang ingin tidur di kamar yang lain, maka itu atas kehendak pribadi atau permintaan adik atau sang kakak.  
       Sepuluh orang dengan kamar masing-masing dan tiga kamar berbentuk pavillium untuk pengurus rumah dan satu kamar tamu. Kamar Rhaissa ada di atas bersama tiga kamar yang lain. Semua pengurus rumah sudah di anggap bagian dari keluarga.
        Di tengah malam seperti ini semua penghuni rumah sudah terlelap. Dan akhir-akhir ini Rhaissa mengalami kesulitan untuk memejamkan matanya. Biasanya kalau capek dia gampang sekali tidur, tak peduli ada suara-suara berisik di sekelilingnya. Itulah dia. Karena ia merasa selalu nyaman bila sudah ada di rumah apalagi kalau ada kak Dina di sampingnya.
       
        Jika tidak sedang show atau jumpa penggemar, Rhaissa cukup pergi bersama kak Dina dan satu pengawal pribadinya. Seperti saat ini, mereka sedang ke Singapura. Dalam perjalanan satu setengah jam itu Rhaissa hanya menjawab twitter di BB termahalnya. Dari teman-teman SMA dan dari penggemarnya. Biasanya di bantu sama kak Dina. Tapi kini ia sepertinya mencoba belajar tanpa kak Dina. Rhaissa hanya tamatan SMA dan duduk di bangku kuliah hanya bertahan dua tahun. Namun suatu saat ia akan melanjutkan kuliahnya dan menggemgam gelar sarjana seperti kakak-kakaknya. Meskipun itu sangat sulit.

        Menjelang malam, Rhaissa dan kakaknya siap-siap menuju acara puncak, namun sebelumnya ia akan latihan sebentar bersama seorang penyanyi dari luar. Karena ia akan diduetkan dengan penyanyi tersebut. Acara MTV Award di adakan setiap tahun di Singapura khusus untuk Asia. Malam itu Rhaissa tetap tampil seperti biasa. Sepertinya dialah satu-satunya penyanyi Asia yang berpenampilan jauh dari gaya anak gaul zaman sekarang. Namun yang pasti dia punya banyak pengagum dari berbagai kalangan, bahkan jauh lebih banyak dari yang diperkirakan orang. Dari pejabat, dan kalangan elit tidak akan malu mengundangnya untuk bernyanyi di istana.
        Sebelum penyerahan favorit famele artist, Rhaissa di daulat untuk menyanyi bersama peraih favorit male artist. Mereka berdua baru bertemu tadi siang dan sempat latihan sebentar. Mereka membawakan lagu Barat yang sangat terkenal saat ini. Sebenarnya itu semua sudah di atur  oleh panitia pelaksana. Dan Rhaissa memang peraih gelar itu. 

BERSAMBUNGGGGGG...........>>>>>